ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Makna Allah Al-Hayyu memiliki tiga kelaziman (konsekuensi) :
Pertama, Kehidupan Allah azali (tidak didahului oleh ketiadaan) adapun selain Allah seluruhnya dimulai dengan ketiadaan. Kedua, Kehidupan Allah kekal tidak diakhiri dengan kematian.
Ketiga, Kehidupan Allah sempurna. kesempurnaan kehidupan Allah berkonsekuensi bahwa Allah memiliki sifat-sifat lazimah (Dzatiyah) yang sempurna. Sifat dzatiyah seperti, Melihat, Mendengar, Ilmu, Iradah, Qudrah dan lain-lain.
Kesimpulannya sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa semua sifat dzatiyah Allah kembali kepada nama Allah Al-Hayyu.
Di antara ayat yang menjelaskan tentang kesempurnaan kehidupan Allah Azza wa Jalla adalah firman-Nya dalam ayat kursi:
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur.”
Kehidupan yang tidak disertai dengan rasa kantuk dan tidur adalah kehidupan yang sempurna. Sebagaimana penduduk surga yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla sedikit kesempurnaan. Mereka tidak tidur, tidak mengantuk dan tidak merasa letih, sebagaimana dalam firman Allah Azza wa Jalla:
“Allah yang telah mengizinkan kami tinggal di Surga secara tetap, tidak berpindah darinya sesudahnya karena karunia-Nya, bukan karena daya dan kekuatan kami, di sana kami tidak mendapatkan kelelahan dan kesusahan.” .
“Nashob’ dalam ayat tersebut maknanya adalah kelelahan ketika beraktivitas dan ‘Lughub’ adalah kesusahan (kelelahan) setelah beraktivitas. (lihat: Tafsir Daqaiq ar-Ruh wa ar-Raihan karya Muhammad Amin Al-Harari 23/431).
Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda ketika beliau ditanya tentang penduduk surga, apakah mereka tidur? Beliau menjawab bahwa mereka tidak tidur, beliau bersabda:
“Tidur adalah saudaranya kematian.” . Dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Sahih al-Jami’ no. 6808.
Penduduk surga juga tidak akan pernah merasa sakit. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada penyeru yang berseru (pada penduduk surga), Sesungguhnya kalian akan selalu sehat dan tidak akan sakit selamanya.
Kalian hidup dan tidak akan mati selamanya, kalian muda tidak akan tua selamanya, kalian akan merasakan nikmat tidak akan merasa sengsara selamanya.
Itulah (makna) firman Allah Azza wa Jalla, dan diserukan: Itulah surga yang Aku wariskan kepada kalian disebabkan apa yang kalian perbuat’.” [Q.S. Al-A’raaf:43).
Jika ini merupakan sedikit kesempurnaan yang diberikan kepada para penghuni surga maka bagaimana dengan kesempurnaan Allah Azza wa Jalla, Al-Hayyu?
Sebagian orang mengatakan bahwa di surga nanti tidak ada yang abadi, makhluk tidak ada yang abadi, surga dan neraka juga tidak abadi. Mereka berdalih bahwasanya jika makhluk abadi maka ini merupakan bentuk menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Padahal keabadian Allah berbeda dengan Keabadian makhluk-Nya. Allah keabadiannya adalah secara Dzat-Nya, adapun makhluk maka keabadiannya karena diabadikan (dikekalkan) oleh Allah Azza wa Jalla.
Selain itu keabadian manusia adalah keabadian yang didahului dengan ketiadaan. Keabadiannya juga keabadian yang di awali dengan kematian, mereka mati terlebih dahulu baru abadi. Adapun Allah Azza wa Jalla maka keabadiannya adalah keabadian yang sempurna.
Tidak didahului dengan ketiadaan, tidak diawali dengan kematian, dan keabadian Allah adalah keabadian secara Dzat-Nya adapun makhluk maka keabadian mereka adalah keabadian yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla.
Penulis : Wawan Idris
Sumber: bekalislam.firanda.com




