Oleh Dasma Adiwijaya
Penulis adalah Ketua KTNA Indramayu dan Budayawan
PERIBAHASA ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’ arti secara tekstualnya adalah seseorang sudah sepatutnya mengikuti atau menghormati adat istiadat yang berlaku di tempat tinggalnya.
Namun pesan moral ini secara kontekstual lebih dari hanya sekadar menjaga adat istiadat, akan tetapi yang lebih utama adalah menjaga tata nilai penghargaan, kehormatan, harga diri dan martabat suatu daerah, karena akan berhubungan dengan harga diri warga masyarakatnya.
Indramayu dikenal sebagai daerah surplus beras dan penyangga pangan tertinggi di Jawa Barat, bahkan nasional. Sebagaimana diakui Presiden Indonesia, Joko Widodo, Kabupaten Indramayu termasuk daerah penyumbang terbesar beras nasional.
Pada tahun 2021 produksi padi Indramayu mencapai 1,3 juta ton, sedangkan pada tahun 2022 naik menjadi 1,7 ton. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Indramayu yang menyatakan sampai dengan akhir September 2022 produksi padi sudah mencapai 1.777.044,54 ton.
Dengan produksi sebanyak itu, Kabupaten Indramayu menurut DKPP akan mengalami surplus beras sebanyak 893.622,28 ton. Entah bagaimana kemudian Bulog Indramayu menyatakan bahwa cadangan berasnya saat ini tinggal 100 ton.
Sudah pasti banyak orang akan bertanya-tanya dengan pernyataan Bulog Indramayu yang menginformasikan bahwa cadangan berasnya hanya tinggal 100 ton. Terlebih penyataannya itu tanpa penjelasan.
Pikiran orang yang menerima berita akan terpokus pada kalimat, hanya tinggal 100 ton? Dan alasan apa pun, semua orang selain akan bertanya juga akan beropini macam-macam.
Yang tak disadari pernyataan Bulog ini pastinya akan mengusik martabat daerah yang berpredikat surplus beras tertinggi, daerah yg diakui sebagai penyangga pangan khususnya beras tertinggi nasional. Kenapa begitu?
Andai pun orang menerima alasannya, misal karena dikirimkan ke daerah-daerah lain yang terkena bencana. Pertanyaan lain akan muncul, apakah tidak ada juga beras Bulog yg diperdagangkan? Beras keluar dijual ke pedagang?
Pokok masalahnya akan terpulang pada pemikiran dasar. Bukankah semua pejabat atau orang yang dipercaya memegang tanggung jawab itu telah dipilih orang-orang terbaik yang bisa berpikir cerdas, membertimbangkan berbagai aspek, termasuk memberikan sanggahan atau alasan.
Dengan demikian, jika diminta oleh pimpinan instansinya dapat memberikan alasan yang jelas, argumentatif, berbasis data, dan tentunya dapat mempertanggungjawabkan segala keputusannya. Lebih dari itu, mempertahankan harga diri dan martabat daerah yang ditempatinya.
Hal ini harusnya menjadi salah satu motivasi untuk melindungi warga terutama para petani dan berjaga-jaga jika di daerah sendiri ada bencana atau operasi pasar dll.
Jangan kemudian baru sadar setelah situasi mendesak, cadangan pangan tidak cukup, hanya tinggal 100 ton. Kenapa baru berhitung setelah tahu hanya tinggal 100 ton dan itu tidak cukup? Lalu dulu saat panen raya, Bulog Indramayu menyerap gabah/beras petani berapa ton?
Mestinya kalau Bulog Indramayu menjadi gudang “Cadangan Beras” untuk daerah lain juga, dan sebagai BUMN yang juga harus berjualan beras, maka serapan gabah/beras saat panen raya harus cukup.
Inilah pemikiran dasar yang seyogyanya menjadi bahan pertimbangan jika informasi cadangan beras jumlahnya hanya tinggal 100 ton. Pernyataan itu tentu harus dilengkapi keterangan yang jelas, misalnya jumlah tersebut tidak menghawatirkan.
Karena jangan salah, 100 ton itu jumlah yang tersimpan di gudang Bulog. Gabah yang masih disimpan di gudang petani untuk cadangan pangan masing-masing oleh petani tidak pernah diumumkan.
Apalagi kalau kemudian, karena cadangan beras sudah menipis, yakni hanya tinggal 100 ton, maka terpaksa Indramayu menerima beras impor. Ini jelas akan mengusik warga Indramayu yang berpredikat sebagai daerah surplus beras tertinggi, namun ternyata menerima beras impor juga.
Jika Bulog Indramayu memutuskan menerima beras impor sama halnya dengan mematikan harapan-harapan petani menikmati hasil kerja kerasnya. Disebut demikian karena impor beras akan menjatuhkan harga gabah dan beras petani, terlebih pasa saat panen raya.
Kalau harga gabah dan beras jatuh maka para petani jangankan untung, dapat mengembalikan modal pun sudah bagus. Kenyataannya, saat impor beras berlimpah di pasar, para petani mengalami kerugian bertubi-tubi. ***




