mhnews.id.- Pemerintah Kabupaten Indramayu terus berikhtiar melalui berbagai program dan kegiatan menurunkan angka penderita anak stunting dengan target pada level satu digit, 7 persen dari 14,4 persen saat ini.
Salah satu ikhtiar untuk mencapai terget tersebut, adalah gigihnya kampanye Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, Penyuluhan dan Pergerakan, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disduk-P3A) Kabupaten Indramayu, Soimalia Mahar.
Ia yang juga Ketua Indramayu Sehat Tanpa Asap Rokok (ISTAR) itu turut menangani stunting di Indramayu melalui ajakan untuk tidak merokok di kawasan tanpa rokok. Tak lain, senjata yang digunakannya yaitu Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Indramayu Nomor 8 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
Menurutnya, penanganan stunting dapat dilakukan salah satunya dengan tidak merokok di kawasan tanpa rokok. Hal ini dapat diwujudkan dengan penerapan peraturan yang telah ada di Kabupaten Indramayu, yaitu Perda Nomor 8 tahun 2016 tentang KTR.
“Stop merokok di kawasan tanpa rokok, cegah stunting. Agar keluarga bebas stunting, mari ciptakan udara bersih, sehat dan segar demi terwujudnya Indramayu Bermartabat,” kata Soimalia kepada mhnews.id, Selasa (23/8).
Ia menegaskan ada kaitannya antara asap rokok dengan risiko stunting pada anak. Bukan tanpa dasar, hal itu dikuatkan hasil kajian dan penelitian.
“Dari studi yang dilakukan oleh tim Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), merokok (asap rokok) ternyata bisa meningkatkan risiko stunting pada anak,” katanya.

Dituturkannya, hasil kajian tersebut mengungkapkan bahwa anak yang tinggal bersama orang tua yang perokok kronis atau perokok transient, cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat dalam berat dan tinggi badan. Sedangkan anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak merokok, tumbuh 1,5 kilogram lebih berat dan 0,34 centimeter lebih tinggi.
Selain itu, didukung juga oleh bukti statistik yang kuat dan konsisten. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa anak dengan orang tua perokok kronis, berisiko mengalami stunting 5,5 persen lebih tinggi dibandingkan anak yang orang tuanya bukan perokok.
“Kajian ini bisa menjadi pengingat agar orang tua lebih bijak saat merokok, demi kesehatan buah hati, sehingga si kecil dapat tumbuh sehat dan terhindar dari stunting. Dan Indramayu Bermartabat pun dapat terwujud,” tutupnya.
Penulis : Rohman
Editor : Wawan Idris




