MHNEWS.ID.- Anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi Partai Demokrat, Nico Antonio menyerap aspirasi rakyat yang diwakilinya di Daerah Pemilihan (Dapil) II Indramayu.

Dapil II yang diwakili Nico meliputi Kecamatan Karangampel, Juntinyuat, Kedokan Bunder, dan Krangkeng. Kegiatan tersebut merupakan reses masa persidangan III tahun 2025.

Nico Antonio mengaku menyerap beberapa aspirasi hasil reses di Dapil II khususnya di Kecamatan Karangampel.

Adapun keluhan-keluhan masyarakat antara lain berkaitan pertanian, infrastruktur jalan dan jembatan serta lainnya.

Dari berbagai aspirasi yang ditampungnya, Nico menganggap keluhan masyarakat tentang pertanian yang menjadi aspirasi prioritas. Sebab, sektor pertanian menjadi pekerjaan mayoritas masyarakat.

Karena itu, Nico akan memperjuangkan sektor tersebut secara maksimal demi rakyat yang diwakilinya.

“Yang menjadi skala prioritas yang jelas sekarang kan sektor pertanian juga memang menjadi skala penting ya. Karena tadi, banyak keluhan,” kata Nico Antonio saat ditemui di gedung DPRD setempat, Senin (20/10/2025).

Pihaknya menampung keluhan petani yang meminta adanya normalisasi sungai. Sebab, telah terjadi pendangkalan yang berimbas pada tidak terpenuhinya kebutuhan air untuk sawah petani.

“Terkait dengan normalisasi, karena beberapa sungai itu pendangkalannya sudah terlalu tinggi. Makanya perlu ada normalisasi,” jelas Nico.

Selain itu, Nico juga menyebut keluhan-keluhan yang diterimanya pada saat reses kali ini, yaitu komplain masyarakat terkait Perumdam Tirta Darma Ayu (TDA).

Dalam hal ini, masyarakat mengeluhkan tagihan Perumdam TDA yang membengkak setelah adanya jalur baru pasokan air dari Kuningan.

“Dengan tekanan yang tinggi air pasokan dari Kuningan ini berimbas pada tagihan mereka yang sangat signifikan,” ucap Nico.

Menurut Nico, kondisi demikian mestinya ada penggantian meteran yang baru seiring bergantinya tekan air yang dulunya rendah sekarang menjadi tinggi.

Pihaknya menduga membengkaknya tagihan air masyarakat yang biasanya berkisar Rp 50.000-Rp 200.000 menjadi sekira Rp 500.000 tersebut ditengarai imbas dari tidak normalnya meteran.

“Nanti akan kita sampaikan di sidang paripurna untuk penyampaian laporan hasil reses,” pungkas Nico.

Penulis  : Rohman
Editor    : Wawan Idris