ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Orang beriman itu pasti diuji dengan berbagai kesulitan, kemiskinan, juga kesenangan, harta, jabatan, dan anak-anak oleh Alloh Azza wa Jalla.
Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pendusta.” (Q.S. Al-Ankabut: 2-3).
Apakah kalian mengira akan (dapat) masuk surga sedang belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian?
Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al-Baqoroh: 214).
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (Munafik) dari yang baik (Mukmin)…” (Q.S. Al-Baqoroh: 179).
Ayat di atas cukup menjadi bukti, bahwa keimanan seorang muslim itu pasti diuji. Celakanya, banyak muslim ketika sedang mendapat ujian malah berburuk sangka kepada Alloh Azza wa Jalla dan bahkan tidak sedikit yang meninggalkan keimanannya.
Karenanya, hati-hatilah saat sedang mendapat ujian, terutama berupa kesulitan, kesengsaraan, kemiskinan, penyakit, dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Dan ucapkanlah innalilah dan beristighfarlah saat mendapatkan ujian seperti ini.
Ujian keimanan tidak hanya dalam bentuk segala hal yang tidak diinginkan akan tetapi juga bisa dalam bentuk segala hal yang diinginkan seperti kenikmatan, kesenangan, harta berlimpah, jabatan, anak-anak yang sholeh, kesuksesan, dan sejenis itu.
Sungguh akan kami uji (iman) kalian dengan kesusahan dan (dengan) kesenangan. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan…” (Q.S. Al-Anbiya’: 35).
Ujian berupa kenikmatan atau kesenangan ini merupakan ujian terberat karena bisa membuat orang lupa diri, lupa Allah, dan sombong atau takabur. Belajarlah kepada Nabi Sulaiman ketika mendapat ujian berupa kesenangan agar selamat.
Karunia ini merupakan pemberian Rabbku untuk menguji imanku, apakah aku bersyukur atau aku kufur. Siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, sedang siapa kufur, sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (Q.S. An-Naml: 40).
Penulis: Wawan Idris




