MHNEWS.ID.- Pembina Kompi, Juhadi Muhammad, menyebut pihaknya tidak anti-revitalisasi jika program dikelola langsung oleh KKP dengan pola kemitraan.

Namun, ceritanya akan berbeda jika swasta atau BUMN yang masuk sebagai pengelola.

“Tapi kalau dikelola oleh perusahaan, kami menolak tegas karena pasti akan mematikan petambak penggarap. Kalau tambaknya diminta, masyarakat akan kehilangan mata pencaharian,” kata Juhadi sebagaimana dikutip Kompas.com.

Di sisi lain, ia juga menyayangkan adanya pematokan lahan tambak tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu kepada para petambak.

“Langsung patok-patok saja. Minimal ada kulonuwun,” cetus Juhadi. Sementara itu, salah seorang petambak asal Desa Karanganyar, Haji Ayo, membeberkan betapa produktifnya tambak di Indramayu saat ini.

Untuk komoditas ikan nila saja, ia mampu menghasilkan 10 ton per hari atau sekitar 300 ton dalam sebulan.

“Pasarnya sampai ke Pangandaran, Jakarta, hingga Banten. Kami sebenarnya siap mendukung kalau pemerintah mau fokus di nila, kami sudah sangat paham budidayanya. Tapi tolong, libatkan kami sebagai mitra,” ungkap Haji Ayo.

Penulis: Wawan Idris