MHNEWS.ID.- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menjawab enteng persoalan kurangnya meja dan kursi siswa saat penambahan kapasitas rombongan belajar diberlakukan.
Menurut Dedi, dirinya akan membeli meja dan kursi siswa sebagai konsekwensi kebijakan tersebut. Bahkan Dedi menegaskan pengadaan meja dan kursi itu memakai uang pribadi.
Tak sampai di situ, Dedi juga menjawab dengan tegas jika pihaknya akan melengkapi kelas dengan AC sehingga tetap nyaman dan tidak panas akibat penambahan jumlah siswa.
Namun persoalan penambahan rombongan belajar dari biasanya 32-35 menjadi 50 menurut ahli psikilogi, Bukik Setiawan tidak hanya meja, kursi, dan AC.
Bukik Setiawan, yang juga pakar pendidikan menyebutkan beragam dampak negatif dan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan satu kelas 50 siswa tersebut.
Dikatakan Bukik, penambahan rombongan belajar menjadi 50 siswa memiliki dampak serius terhadap kualitas pembelajaran di sekolah negeri.
Misalnya kelas yang tidak kondusif dan kemunculan penyalahgunaan kebijakan, seperti manipulasi kuota. Dampak lainnya adalah dari sisi psikologis para murid.
“Bukan karena guru tidak mampu bicara di depan 50 orang, tapi karena belajar bukan sekadar mendengar ceramah. Belajar itu soal saling mengenal, bertanya, berdiskusi, mencoba, bahkan salah lalu memperbaiki,” ucapnya sebagaimana ditulis Kompas.com, Selasa (15/7/2025).
Dampak psikologis
Berdasarkan pemaparan Bukik, berikut adalah dampak yang berpotensi muncul pada para siswa jika kebijakannya diimplementasikan:
Semakin banyak yang tertinggal
Semakin banyak siswa dalam satu kelas, maka pembelajaran akan terasa lebih jauh. Kesempatan bagi mereka untuk belajar secara intens dan mendalam akan menghilang.
Secara indera, pembelajaran akan lebih sulit untuk didengar dan dilihat. Akan tetapi, implikasi lebih luasnya adalah tidak terlayaninya kebutuhan para siswa.
Tak dapat dipungkiri, dalam kapasitas kelas yang normal saja masih ada beberapa siswa yang tidak memahami pelajaran. Maka, peluang itu akan menjadi lebih besar ketika ada banyak siswa dalam kelas.
Terlebih pada murid yang memiliki kesulitan belajar atau pemalu karena guru tidak sempat memperhatikan satu per satu.
Hubungan antara guru dan siswa
Banyaknya murid di dalam kelas juga akan berpengaruh pada waktu yang dihabiskan selama jam pelajaran.
Ketika beberapa siswa tidak bisa diwadahi kebutuhannya, artinya interaksi antar siswa dan guru semakin mengecil pula.
Menurut Bukik, fenomena ini akan mengarah pada kualitas hubungan pengajar dan peserta didik. Hubungan mereka akan mengarah pada formalitas saja. Dengan kata lain, kaku dan berjarak.
Tidak akan ada ruang yang cukup untuk mengenal dan melayani kebutuhan para siswa dengan kuantitas yang besar pada setiap kelas.
Munculnya tindakan kekerasan
Guru tidak akan memiliki kemampuan untuk mengawasi kelas secara ketat dibandingkan jika jumlah siswa dalam kelas lebih sedikit. Minimnya perhatian tidak akan menutup kemungkinan kemunculan kelompok kecil.
“Kelompok-kelompok kecil bisa terbentuk tanpa pengawasan memadai, menciptakan ruang untuk ejekan, penindasan, atau pengucilan yang sulit terdeteksi,” jelas Bukik.
Bukik turut mengingatkan bahwa anak yang jadi korban sering merasa takut untuk bersuara ketika gurunya terlalu sibuk.
Ada solusi lain Melihat imbas yang berpotensi terjadi kepada siswa akibat kebijakan ini, Bukik mengingatkan bahwa harus ada solusi yang lebih berpihak pada murid.
“Tugas kita bukan hanya menyediakan kursi di kelas, tapi menyiapkan masa depan anak-anak,” ujar Bukik.
Ia menilai bahwa justru jalan keluar utamanya ada pada jumlah guru, bukan penambahan murid per kelas.
Menurutnya, kini persebaran guru masih belum merata dan masih bisa diperbaiki untuk mendampingi proses belajar yang bermakna.
“Kalau mau serius menyelesaikan masalah, gubernur seharusnya bukan membolehkan menambah murid per kelas, tapi memastikan jumlah guru cukup dan merata di semua sekolah,” tegasnya.
Penulis: Wawan Idris



