MHNEWS.id.- Menjadi pegawai, terutama sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS menjadi idaman sebagian besar masyarakat Indonesia daripada menjadi pedagang atau pengusaha.
Bisa hidup nyaman, tenang, dan tajir bisa menjadi alasannya. Sikatakan demikian karena dengan menjadi pegawai resiko bangkrut atau dipecat sangatlah kecil. Coba bandingkan dengan menjadi pengusaha atau pegawai swasta.
Namun demikian, menjadi pegawai ASN juga memiliki tantangan tersendiri, terlebih bila dipandang dari sudut pandang agama. Menjadi ASN banyak godaannya, terutama penyalahgunaan kewenangan.
Karenanya, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad dalam manhaj.or.id menguraikan nasihat sangat penting untuk para pegawai dan karyawan dalam menunaikan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya.
Abdul Muhsin memberikan nasihat atau kiat yang dapat dijadikan pedoman bagi para pegawai atau karyawan agar mereka bersikap amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Menjadikan Qur’an sebagai rujukan utama bagi para ASN dalam menjalankan amanahnya. Di antara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. .
Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu.” .
Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti: shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya.
Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu.
Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat.
Dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” .
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”
Ibnu Katsir berkata, “Dan semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya.
Dan jika melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan”.
Firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji.” .
Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan apabila berjanji mereka tidak mungkir. Ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya adalah sifat-sifat munafikin.
Sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih. “Tanda munafik ada tiga: apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan apabila diberi amanat dia berkhianat”.
Dalam riwayat lain. “Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia berlaku keji”.
Penulis: Nia Herlina (Pengurus PKK Kabupaten Indramayu)




