mhnews.id.- Perusahaan Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Darma Ayu (TDA) atau PDAM Indramayu berencana mengumkan kenaikan tarif air minum pada Selasa, 31 Januari 2023 pukul 23:59 WIB.
Dipastikan, setelah pengumuman akan diberlakukan tarif baru. Hanya saja, PDAM belum bersedia membocorkan kenaikan tarif untuk kelompok mana saja. Kelompok industri, rumah tangga, atau seluruh kelompok dinaikan tarifnya.
“Nanti tepat pukl 23:59 WIB, kami akan umumkan. Soal kelompok atau kluster mana yang naik, atau semua kluster, menunggu kajian dan keputusan akhir dari bupati sebagai Kuasa Pemegang Modal,” ujar Dirut PDAM Indramayu, Ady Setiawan.
Penyesuaian tarif tersebut, imbuh Ady, karena beberapa alasan atau indikator yang kemudian menjadi pertimbangan utama. Alasan itu, kata dia, antara lain adanya kenaikan harga tarif dasar listrik dan BBM.
Indikator lainnya yakni lebih tingginya biaya produksi akibat dari adanya kenaikan bahan kimia pengolah air, biaya operasi, dan pemeliharaan. Imbas dari seluruh indikator itu, lanjut Ady Setiawan terjadi kenaikan biaya usaha yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pendapatan.
“Beban berat itu menyebabkan perusahaan tidak mampu atau sulit melakukan pengembangan usaha untuk mencapai target peningkatan cakupan layanan. Bila tarif air naik kami akan memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan,” jelas Ady.
“Prinsipnya kami siap melakukan perbaikan di semua lini. Jika kenaikkan tarif nantinya tidak diimbangi dengan perbaikan pelayanan, saya, direksi dan seluruh pegawai siap ditegur,” tandas Ady.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa dari HMI melakukan unjuk rasa di depan kantor Perumdam TDA. Mereka menyampaikan aspirasinya, menolak rencana kenaikan tarif air. Aksi mereka berakhir menggembirakan karena ditutup dengan aksi poto bersama Dirut Ady Setiawan.
Penolakan kenaikan tarif air juga disampakan emak-emak dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Keberatan KPI atas rencana kenaikan tarif air ini disampaikan kepada anggota DPRD Indramayu.
KPI selain menolak kenaikan tarif juga menyinggung masalah kuaklitas air minum yang masih harus ditingkatkan. Saat ini air produksi Perumdam TDA dinilai buruk, selain kerap berwarna coklat juga dinilai kurang memenuhui standard untuk dijadikan air minum.
Karena rendahnya kualitas air, banyak pelanggan di Kota Indramayu, khusus untuk minum terpaksa membeli air kemasan sedangkan air PDAM hanya untuk mandi, cuci, dan nyiram tanaman.
“Jangankan untuk minum manusia, ikan saja kalau airnya baru diganti dengan air PDAM pada mati. Makanya kami harus mengeluarkan biaya lagi karena khusus untuk minum terpaksa membeli air kemasan,” ungkap Ibu Nur, warga Komplek Marga Mekar.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




