Oleh H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan
PETA ELEKTORAL PKB di Jawa Barat dalam up date data lembaga survey Poltracking edisi 2 Desember 2022 terhadap 18 partai politik peserta pemilu 2024 –PKB di peringkat kelima sebesar 6,8 persen.
Peta elektoral PKB di Jawa Barat di atas lebih “rendah” daripada peta elektoral PKB di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Jawa Timur PKB dalam survey yang sama pemuncak survey sebesar 21,6 persen dan di Jawa Tengah PKB di peringkat kedua sebesar 13,9 persen.
Secara demografis peta elektoral PKB di tiga provinsi terbesar di Pulau Jawa di atas “tidak mengagetkan”, sebuah peta elektoral “historis” mewarisi peta elektoral raihan suara partai NU Pemilu 1955, Pemilu 1971, dan raihan suara PKB dalam lima kali ikut Pemilu di era reformasi.
Jawa Timur tetap menjadi lumbung suara terbesar PKB, “anak kandung” ideologis partai NU, diikuti Jawa Tengah, dan berikutnya Jawa Barat mulai merangkak naik.
Artinya, kekuatan elektoral PKB di tiga provinsi besar di Pulau Jawa tersebut tetap bertumpu pada peta kekuatan “ekosistem” basis sosial NU, yakni ormas Islam inisiator berdirinya PKB tahun 1998.
Dengan kata lain “sanad” historis dan ideologis basis elektoral PKB adalah kekuatan basis “ekosistem” sosial NU. Makin kuat basis dan daya topang ekosistem sosial NU makin kuat pula daya tahan elektoral PKB bahkan potensial PKB meraih elektoral politik lebih besar.
Itulah yang disebut dalam tradisi penelitian politik sebagai “party id” atau identitas kekuatan elektoral partai politik, dalam konteks ini adalah PKB.
PKB sulit “digangggu” penetrasi partai lain bahkan sebagaimana statement Ketua Umum PKB, Gus Muhaimin –PKB tidak terpengaruh oleh manuver “zig zag” struktur kepengurusan NU sekalipun.
Hasil survey litbang Kompas (24 Januari 2022) menemukan fakta “mengamini” statement Gus Muhaimin di atas bahwa pemilih PKB adalah pemilih “paling” loyal menjadikan PKB sebagai identitas pilihan politiknya.
Di Jawa Barat ekosistem sosial NU “lebih longgar” dibanding Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidaklah heran jika raihan dan potensi elektoral PKB pun lebih kecil dibanding Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Dalam penelitian LIPI (2018) dari 78 persen “warga NU” di Jawa Barat dalam arti tahlilan, ziarah kubur, qunut di shalat shubuh, dua kali adzan sholat Jum ‘at, dll, akan tetapi hanya 9 persen dari mereka yang mengikatkan relasi sosiologisnya secara “membatin” ke ormas NU.
Dengan kata lain mereka secara umum belum bertransformasi menjadi ekosistem sosial NU secara kuat sehingga “longgar” sebagai basis elektoral PKB di Jawa Barat.
Lebih dari itu bahkan mereka mudah ditarik “keluar” menjadi bagian komunitas muslim baru dan anak-anak keturunannya lebih “happy” masuk ke pesantren-pesantren modern “Islamic Boarding School” yang tumbuh menjamur di Jawa Barat –makin menjauhkan relasi politik mereka ke PKB.
Di sini pentingnya kerja elektoral PKB di Jawa Barat diarahkan pada “kekhususan” penguatan pranata sosial NU yang sangat besar, yakni instrumen pranata sosial NU seperti pesantren, sekolah, madrasah, majelis taklim, dan network NU lainnya.
Pranata sosial NU di atas bukan sekedar ditransformasikan dekat relasinya dengan ormas NU dan pengurusnya secara teknis dan program aspiratif, lebih dari itu, membentuk mereka menjadi kekuatan ekosistem sosial NU secara membatin sebagai basis elektoral PKB di Jawa Barat.
Kerja elektoral PKB ibarat sebuah tim sepakbola harus diletakkan pada kekuatan tradisi gaya permainannya dalam mengangkat performa tim. Dalam konteks ini kolektivitas kerja kompetisi Caleg bersifat sub ordinat dalam kerangka menaikan elektoral PKB.
Dalam metafor piala dunia belajarlah dari tim Argentina. Mereka gagal di piala dunia 2014 karena meletakan strategi kehebatan Messi (metafor Caleg) “menggendong” tim (partai).
Sebaliknya mereka sukses pada Piala Dunia 2022 karena strategi meletakkan Messi (Caleg) “digendong” tim (elektoral partai).
Penulis sangat mengenal H. Saeful Huda, Ketua DPW PKB Jawa Barat. Saeful Huda adalah sosok kaya dengan pengalaman sebagai peneliti sosial yang tentu sangat fasih memahami “gestur” warga NU di wilayahnya.
Kompetensi Saeful Huda tersebut diharapkan menjadi kekuatan dalam kerangka mendesain kerja-kerja politik di sisa waktu satu tahun ke depan. Sehingga proyeksi target PKB di kaukus “tiga besar” di Jawa Barat dengan raihan elektoral 15 persen berhasil di-golkan.
Selebihnya tergantung instrumen dan juru bicara partai di bawahnya, terutama mereka yang fasih menerjemahkan “kekhususan” kekuatan sosial NU yang sangat besar itu.
Kepiawaian para juru bicara dalam memaklumatkan kekuatan sosial NU itu akan menjadi daya topang elektoral PKB di Jawa Barat. Jika tidak, maka bertarung di luar “akar tradisinya” mau tidak mau ‘harus’ dilakukan, meskipun dengan ongkos politik mahal dan “alot”. Wallhu a’lam bish showab.




