Oleh H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan
PERAN keseimbangan politik atau dalam istilah Fahri Ali, intelektual politik UIN Jakarta disebut political balance yang diperankan Golkar Indramayu saat ini terhadap kepemimpinan Bupati Indramayu, Nina Agustina adalah hal “lumrah” dalam tradisi dan sistem politik demokrasi modern.
Bahkan Willem Lidle, pakar politik dari Ohio University yang menekuni penelitian politik di Indonesia menyebutnya sebagai indikator tingkat demokrasi sehat dan kualitatif. Justru tidak sehat jika Golkar tidak aktif memainkan peran political balance tersebut.
Terus terang Golkar Indramayu tidak memiliki tradisi politik memainkan peran political balance di atas dalam sejarah politik modern di Indramayu, kecuali dalam satu tahun terakhir –konsekuensi kekalahan Pilkada 2020, di mana pasangan calon yang diusung Golkar tidak terpilih.
Pertanyaannya, mampukah Golkar Indramayu memainkan peran politik baru di atas? Apa dampak dari peran politik Golkar di atas dan seberapa besar effect elektoralnya terhadap Golkar Indramayu menjelang kontestasi pemilu 2024?
Dalam hal kompetensi jelas watak “realisme pragmatis” dari gestur Golkar dan pengalaman panjang dalam “tik tok” politik praktisnya sangat piawai dan adaptif dalam peran dan posisi politik apapun.
Akan tetapi terkait effect dan dampak elektoralnya tentu hanya survei dan riset prilaku pemilih secara profesional yang dapat memberi jawaban secara “kredibel” untuk mengukur dua indikator politik sekaligus, yaitu:
Pertama, seberapa besar dampak “defisit” elektoral partai Golkar akibat lepasnya rejim kekuasan politik yang dikuasainya selama 20 tahun terakhir di era reformasi.
Kedua, seberapa besar pula kemungkinan “tukar tambah” elektoral yang dapat diraih partai Golkar Indramayu dari posisi political balance yang diperankannya.
Dalam peta survei jelang Pilkada (Juli) 2020 dan update data survei periode November 2022 secara “top of mind” Golkar paling mapan dalam rekognisi memori kolektif publik, jauh di atas partai-partai peserta pemilu lainnya.
Temuan survei di atas tentu modal sosial penting bagi Golkar tetapi tidak “mengejutkan”. Pasalnya Golkar dengan “warna kuning” dan gambar beringin satu-satunya partai tidak pernah absen dalam hajatan pemilu lima tahunan sejak Pemilu 1971.
Hasil riset tentang typologi demografis pemilih Golkar khususnya di Pulau Jawa secara umum Golkar kuat relasi sosiologi politiknya di akar rumput petani, golongan fungsional, kompatibel secara teknokratik dengan birokrasi dan tidak resisten terhadap kelompok ormas Islam.
Riset di atas pernah dipresentasikan (alm) Slamet Efendi Yusuf, mantan Ketua Umum GP Ansor dan juga Ketua Bapilu DPP Partai Golkar 1999-20O4.
Selain itu, dalam update survei terkini Golkar di posisi dua besar tertinggi diminati generasi “Z” dan generasi milenial, kelompok pemilih sebesar 36 persen di Indramayu (indekstasrt, 2020)
Golkar Indramayu dalam peran political balance, penting diproyeksikan sebagai ikhtiar merawat basis elektoral mereka. Cara ini –memerankan political balance- jauh lebih baik dan elegan daripada dengan mengajak mereka, “Yuk balik maing ning Golkar”.
Tagline “Yuk balik maning ning Golkar” yang diviralkan sejumlah elite Golkar di media sosial ini diangap tidak tepat, sebab mereka belum teruji pindah afiliasi politik dalam kontestasi pemilu. Tagline itu pun kurang kuat sebagai diksi politik elektoral Golkar.
Sebaliknya, dengan memerankan political balance secara tegas dan konsisten, Golkar tidak saja akan mengikat mereka (konstituen), juga punya peluang besar untuk menarik mereka yang selama ini berada di luar konstituen.
Ada pun salah satu cara memerankan political balance yaitu dengan menarasikannya secara kuat dan magnitik di ruang publik akan keberpihakan dan proteksi Golkar pada kepentingan mereka selain melting pot, tempat berhimpun lapisan publik yang tidak “happy” atas kebijakan eksekutif.
Pemilu 2024 ujian sesungguhnya bagi Golkar Indramayu untuk tetap menancapkan dominasi politiknya di Indramayu tentu sejauh mampu mendesain kerja-kerja elektoral politik secara modern dan terukur –bukan asumsi-asumsi umum secara imajinatif.
Kerja-kerja politik secara modern berbasis riset prilaku pemilih dan survei opini publik inilah menurut riset litbang Kompas letak kekuatan daya tahan dan daya adaptasi partai Golkar menghadapi perubahan “cuaca” politik paling ekstrim sekalipun. Mari kita tunggu!
Lalu bagaimana kans dan peluang partai partai lain? Tunggu serial tulisan berikutnya. Wassalam.




