MHNEWS.id.- Musim kemarau merupakan saat panen raya bagi para petani garam. Namun hal ini kadang jadi petaka, karena berlimpahnya produksi mengakibatkan harga garam sangat murahnya.

Kondisi ini dialami para petani garam di Indramayu, tak terkecuali di Kecamatan Krangkeng. Kecamatan Krangkeng termasuk daerah penghasil garam di Indramayu selain di Kecamatan Losarang.

Selain produksi yang berlimpah saat musim panen raya, anjloknya harga garam juga dipengaruhi kualitas. Akibat dua hal ini garam petani bisa sangat murah yaitu pada kisaran Rp 400,00/kg.

Dengan harga ini para petani tentu saja tidak merasakan keuntungan dari jerih payahnya. Hal ini juga dialami Pondok Pesantren Assalafiyah yang mengelola puluhan hektar tambak garam di Kecamatan Krangkeng.

Diceritakan Supandi, salah seorang pengelola Ponpes Assalafiyah, pada awal mula perintisan tambak garam ini cukup banyak mengalami kesulitan.

Bahkan, garam yang dihasilkan pada saat itu adalah jenis garam KW 3 yang memiliki nilai jual rendah yaitu sekitar Rp 400,00/kg.

Oleh karena itu, Pesantren bersama masyarakat pengelola tambak ini beberapa kali harus melakukan riset hingga menemukan cara yang tepat.

“Kami menemukan cara yang tepat yakni dengan menggunakan plastik Geomembrane untuk proses pengendapan garam. Cara tersebut berhasil menghasilkan garam kualitas baik dan memiliki nilai jual Rp 3.500,00/kg,” ujar Supandi.

Untuk meningkatkan hasil produksi tambak garam, pihak Pesantren Assalafiyah mengajukan proposal bantuan dana kepada pemerintah, dan kemudian proposal bantuan tersebut diarahkan kepada PT Pertamina Persero.

Dari dana bantuan sebesar Rp 300 juta tersebut, digunakan untuk membeli peralatan dalam menunjang proses produksi garam seperti membeli 32 ribu karung dan 68 roll plastik Geomembrane.

Supandi menerangkan bahwa bantuan dana dari PT Pertamina (Persero) ini sangat bermanfaat bagi pengembangan tambak garam yang dikelola, sehingga mereka bisa melakukan panen garam setiap harinya dengan kualitas yang bagus.

Setelah menggunakan plastic Geomembrane yang dibeli dari bantuan CSR Pertamina ini, kata Supandi, hasil panen garam meningkat pesat, kualitas garamnya juga bagus dan menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat.

Saat ini, terang Supandi,  tambak garam yang dikelola pesantren perharinya dapat memproduksi sekitar 1-2 ton garam kualitas baik.

Karena kualitas garam yang bagus, pihak pesantren pun kewalahan menerima pesanan dari berbagai pihak, bahkan pesanan juga banyak datang dari Lampung dan Padang.

“Sekarang banyak warga yang biasanya nganggur, kini kerja sebagai kuli angkut garam. Itu secara umum, kalo bagi pesantren kita juga bisa membeli sarana dan prasarana sekolah dari hasil itu,” jelas Supandi.

Bukan hanya itu saja, tambahnya, Pesantren Assalafiyah juga memiliki tambahan pendapatan yang berguna untuk biaya operasional pesantren.

Tambahan penghasilan itu diantaranya dialokasikan untuk subsidi sekitar 100 santri yatim yang mendapat pendidikan secara gratis di pesantren tersebut.

Bantuan dana dari PT Pertamina (persero) ini sangat mendukung Sustainable Development Goals, terutama pada poin 1 yakni mengentaskan kemiskinan, poin 4 pendidikan yang berkualitas, dan poin 8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Adanya guliran bantuan ini sangat bermanfaat untuk keberlanjutan perekonomian masyarakat sekitar dan meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan di Pesantren Assalafiyah.

Disebut demikian, karena hasil keuntungan dari kegiatan usaha tambak garam ini sebagian besar dimanfaatkan untuk biaya operasional pesantren.

Ucapan terima kasih juga disampaikan pengasuh Pondok Pesantren As Salafiyah, H. Asror untuk Pertamina. “Tak lupa, doa dan harapan juga disampaikan agar keberlangsungan proses bisnis Pertamina tetap lancar,” ucapnya.

Penulis  : Rohman
Editor    : Wawan Idris