mhnews.id.- Berdalih sebagai bagian dari materi ajar Mata Kuliah Seni Islam, seorang profesor di Amerika Serikat (AS) menunjukkan lukisan yang menggambarkan Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam kepada mahasiswanya.
Profesor yang dimaksud tidak laian adalah Erika Lopez Prater seorang guru besar di Universitas Hamline yang berada di Kota St. Paul, AS. Akibat perbuatannya, Prater mendapat sorotan dan terancam tidak lagi diijinkan mengajar di universitas swasta tersebut.
Terungkapnya kasus ini bermula setelah seorang mahasiswi bernama Aram Wedatalla keberatan dengan Profesor Prater yang menunjukkan lukisan abad ke-14 yang menggambarkan Nabi Muhammad dalam kursus seni global Lopez Prater.
“Sungguh menghancurkan hati saya bahwa saya harus berdiri di sini untuk memberi tahu orang-orang bahwa ada Islamofobia dan sesuatu yang benar-benar menyakiti kita semua, bukan hanya saya,” kata siswa yang merupakan presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim Hamline itu dikutip Al Jazeera, Kamis, (19/1/2023).
Melansir cnbcindonesia, buntut kasus ini Universitas Hamline memilih untuk tidak memperpanjang kontrak Profesor Prater. Bahkan kehebohan ini berpotensi mengakibatkan Prater untuk tidak mendapatkan posisi tetap di lembaga pendidikan tinggi manapun.
Prater sendiri telah mengajukan gugatan pada Universitas Hamline pada Selasa. Gugatan itu menuduh universitas menjadikan Lopez Prater sebagai bagian diskriminasi agama dan pencemaran nama baik yang kemudian merusak reputasi profesional dan pribadinya.
Pengacara Lopez Prater mengaku bahwa Prater telah memberikan peringatan sebelum menunjukkan gambar itu. Prater juga telah memasukan hal ini dalam silabus dan mengaku siap untuk mengatasi siswa yang tidak nyaman.
“Di antara hal-hal lain, Hamline, melalui administrasinya, menyebut tindakan Dr Lopez Prater sebagai ‘Islamofobia yang tidak dapat disangkal’,” kata pengacaranya dalam sebuah pernyataan.
Insiden tersebut, yang terjadi pada Oktober, telah memicu perdebatan tentang keseimbangan pertimbangan beragama dan kebebasan akademik, dengan pihak administrasi sekolah tampaknya mengubah sikapnya terhadap masalah tersebut di tengah reaksi tersebut.
Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) nasional juga telah mempertimbangkan masalah ini. Mereka menggarisbawahi antara menunjukkan penggambaran Nabi Muhammad untuk tujuan akademis dan bukan dalam konteks lalai atau jahat.
“Berdasarkan apa yang kami ketahui sampai saat ini, kami tidak melihat bukti Profesor Prater bertindak dengan niat Islamofobia atau terlibat dalam perilaku yang memenuhi definisi kami tentang Islamofobia,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan yang dirilis pekan lalu.
Penulis: Wawan Idris




