MAGGOT atau belatung merupakan larva dari jenis lalat Balck Soldier Fly (BSF) yang awalnya berasal dari telur, kemudian berkembang menjadi lalat dewasa. Maggot akhir-akhir ini dipilih sebagai salah satu alternatif pakan ikan bahkan sekarang ini dijadikan peluang bisnis yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Potensi ini yang kemudian dikembangkan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refenery Unit (RU) VI Balongan. Perusahaan BUMN ini menggandeng Kelompok Rentan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Indramayu untuk mengembangkan maggot tersebut.
Melalui Kelompok Bima Sakti (Bina Masyarakat Peduli Keanakaragaman Hayati) Pertamina RU VI Balongan melakukan pelatihan pengembangan maggot. Tujuannya jelas, untuk mempersiapkan kembali para warga binaan ketika mereka keluar dan kembali ke tengah masyarakat.
“Dengan memiliki keterampilan dan ilmu dalam hal ini mengenai budidaya maggot diharapkan mereka bisa hidup mandiri dan dapat membuka usaha sendiri. Mengapa? Karena budidaya maggota bernilai ekonomi tinggi,” tutur Tim CSR PT KPI RU VI Balongan, Yoga Satria Gumilar kepada mhnews.id, Senin (7/11 /2022).
Dijelaskan Yoga, program budidaya maggot berawal dari upaya penanganan limbah sampah rumah tangga yang dihasilkan Lapas. Dengan modal kemauan, keuletan, pengetahuan, dan keterampilan sampah itu diolah sehingga bisa memberikan manfaat.
Melalui Integrated Farming, yaitu program berbasis kesinambungan terintegrasi dengan pertanian dan perikanan, olahan sampah digunakan untuk kepentingan pertanian dan perikanan tersebut. Selama ini hasil olahan sampah berupa maggot tersebut terbukti dapat meningkatkan produksi pertanian dan perikanan.
“Alasan Pertamina memilih tempat pembinaan di Lapas karena melihat tumpukan sampah rumah tangga yang banyak. Dari situlah tercetus ide kalo kita buat program pengolahan sampah tapi diintegrasikan dengan pertanian dan perikanan (intregrated farming),” jelas Yoga.
Lebih rinci Yoga menjelaskan, program ini awalnya direncanakan pada tahun 2020, namun karena covid ditunda dan baru dilaksanakan pada bulan Februari tahun 2021.
Dalam program ini Pertamina RU VI Balongan hanya memberikan bantuan berupa pembinaan, pelatihan, dan pemberian sarana dan prasaran berupa Instalasi Hidroponik, tempat sampah pemilah kandang maggot, serta bimbingan dari dua orang pendamping tehnis yang ahli dibidangnya.
Dijelaskan, alur program Integrated Farming dimulai dari sampah yang ada di Lapas, yang terdiri dari sampah organik dan unorganik. Kedua jenis sampah ini dipisahkan terlebih dahulu. Untuk sampah organik dikelola dan diurai dengan menggunakan lalat hitam BSF maggot yang mampu mengurai sampah dengan cepat.
Satu ekor lalat BSF yang diternakan mampu menghasilkan telur sebanyak 1 sampai 2 gram selama kurun waktu tertentu. Jika telur itu menetas bisa menghasilan maggot 2 sampai 3 kilo gram. Magot inilah yang dijadikan pakan lele. Sedangkan limbah kotoran dari budidaya lele digunakan sebagai pupuk tanaman pakcoy.
Yoga memaparkan pertanian, khususnya pakcoy dan peternakan ikan lele dengan sistem integrated farming ini produksinya sangat signifikan. Untuk pertanian pakcoy dalam sehari di hasilkan 4 sampai 5 kilo gram, demikian juga dengan tenak lele sehari bisa dihasilkan 4 sampai 5 kilo gram.
Walau pun produksinya masih relatif kecil namun ini sangat menjanjikan untuk bisa dikembangkan lebih besar lagi. Terlebih pemasarannya pun sudah ada yaitu langsung dibeli pihak Lapas. Saat ini Kelompok Bima Sakti sudah bisa menikmati hasil usaha. Mereka sudah punya penghasilan meskipun di dalam penjara.
Tidak berjalan mulus
Budidaya maggot dengan program integrated farming tentu tidak berjalan mulus dan banyak hambatan. Salah satu faktor terbesar adalah kelompok warga binaan itu sendiri yang tergabung dalam Bima Sakti. Kelompok yang terdiri dari 8 orang wanita dan 10 pria ini benar-benar baru belajar bertani saat berada di lapas.
Karena miskin pengetahun, ilmu, dan pengalaman mereka setengah hati dalam melaksanakan kegiatannya. Penyebab lainnya, pada saat awal, lokasi budidaya berada di halaman depan Lapas, sehingga usaha untuk mengurus maggot, ternak lele, dan tanam pakcoy pun terbatas.
“Awalnya gagal dua kali, karena baru belajar bertani dan beternak saat di Lapas, kita kurang yakin waktu itu, selain itu lokasi budidaya, ternak lele dan tanam pakcoy berada di halaman depan, dimana di situ jam keluar dibatasi oleh petugas, sehingga tidak terkontrol,” ujar H. Nata Abdul Halim (58) salah seorang anggota kelompok.
Nata mengaku beruntung dilibatkan dalam program pembinaan kemandirian PT KPI RU VI Balongan. Ia kini punya penghasilan sendiri kendati hidup di dalam lapas. Walaupun masih kecil namun Nata merasa yakin suatu hari jika keluar dari Lapas ia akan mengembangkan usaha maggot dengan ketrampilan yang dimilikinya.

Kebun pakcoy warga binaan Lapas Indramayu. Foto: Iir Sairoh/mhnews.id
“Saya berterima kasih sama Pertamina dan Lapas yang sudah mendidik dan melatih usaha. Saya sekarang punya penghasilan walau kecil. Terus terang, saya bangga. In syaa Allah setelah keluar, saya akan kembangkan maggot. Saya akan buka usaha sendiri karena ini sangat bermanfaat dan berfaedah,” ujar Haji Nata.
Hal sama juga dikatakan Alex Eko Santoso Kasie Pembinaan Narapida dan Kegiatan Kerja (Binadik dan Giatja) Lapas Indramayu. Alex mengungkapkan rasa terima kasih kepada PT KPI RU VI Balongan yang telah melakukan pelatihan kepada warga binaan Lapas sehingga mereka kini sudah bisa mandiri.
Pertamina, kata Alex memberikan pembinaan berupa pelatihan, penyediaan tenaga pendamping, sarana dan prasarana sedangkan lahan disediakan pihak Lapas. Saat ini jumlah warga binaan yang terlibat dalam kegiatan integrated farming terdiri dari satu kelompok beranggotakan 8 orang wanita dan 10 orang pria.
Kelompok mereka bernama Bima Sakti. Kelompok ini sudah terlatih, jika ada yang keluar karena masa tahanan usai, maka akan digantikan warga binaan lain dan anggota baru ini akan mendapat pelatihan dari anggota senior.
“Untuk integrated farming ini kita hanya satu kelompok, pria 10 orang dan wanita 8 orang. Jika ada yang keluar karena masa tahanan selesai diganti warga binaan lain, jadi saling terkait, tidak putus,” jelas Alex.
Penulis : Iir sairoh
Editor : Wawan Idris




