ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Nabi Shollallohu alaihi wa sallam yang tak memiliki dosa senantiasa beristighfar.

Dalam hadits yang hasan Nabi Shollallohu alaihi wa sallam beristighfar setidaknya 70 kali. Jika Nabi Shollallohu alaihi wa sallam yang ma’sum saja senantiasa beristighfar, bagaimana dengan kita?

Istighfar, berdzikir dengan menyebut: astaghfirulloh, sebuah kata yang sesungguhnya sangat ringan diucapkan namun sesungguhnya memiliki faedah yang sangat agung.

Sebagaimana disampaikan Ustadz Dr. Firanda Andirja Hafidzahullahta’ala, Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan ketika seorang berzdikir dengan mengucapkan ‘astagfirullah’, maka sesungguhnya dia sedang minta dua hal kepada Alloh Azza wa Jalla.

Pertama, Yaa Rabb tutupi aib-aibku, tutupi dosa-dosaku. Jangan Engkau buka aib-aibku, jangan Engkau umbar aib-aibku di dunia terlebih lagi di akhirat.

Perlu diketahui, ada orang yang aibnya dibuka di dunia, ada orang yang aibnya tidak dibuka di dunia tapi dibongkar di akhirat. Saat Alloh Azza wa Jalla membuka aib di akhirat sungguh lebih mengerikan.

Maka ketika berdzikir, mengucapkan ‘astagfirulloh’, sesungguhnya kita sedang mengakui banyak dosa. Dosa itu, baik yang orang lain tahu dan maupun orang lain tidak tahu.

Namun hal yang pasti Alloh Azza wa Jalla lebih tahu dengan dosa-dosa kita itu. Maka Yaa Rabb, jangan buka aib-aibku di dunia, terlebih lagi di diakhirat.

Kedua, dengan beristighfar, ‘astgafirullah’, kita memohon kepada Alloh Azza wa Jalla untuk melindungi diri kita dari dampak dosa-dosa dan maksiat yang dilakukan.

Sungguh, sekecil dan seringan apa pun dosa-maksiat yang dilakukan, memiliki dampak sangat buruk kepada pelakunya.

Dampak pertama, menyerang hati kita. Sebagaimana dalam hadits Nabi Shollallohu alaihi wa sallam: Sesungguhnya jika seorang hamba bermaksiat maka dicorengkanlah dalam hatinya noda hitam.

Satu corengan noda hitam dalam hati ini berpengaruh luar biasa. Bagaimana jika seluruh hati kita tercoreng noda hitam karena begitu banyaknya dosa dan maksiat?

Satu corengan noda hitam dalam hati kita saja akan menyebabkan kurang khusus dalam shoat, tidak semangat beribadah, dan sebaliknya malah semakin senang bermaksiat.

Dampak kedua, maksiat juga berdampak pada fisik kita (sakit-sakitan, terkena musibah), terkadang terkait dengan ekonomi (terlilit utang, rizkinya sempit), berdampak pada istri, dan anak-anak kita.

Karenanya, ketika kita berdzikir, mengucapkan ‘astagfirulloh’ maka sesungguhnya kita sedang memohon agar dampak maksiat tersebut tidak mengenai kita.

Sangat tidak mungkin kita tidak memiliki dosa juga sangat kecil kemungkinan kita tak melakukan maksiat. Menyadari hal ini maka beristighfarlah sesering dan sebanyak-banyak.

Beristighfarlah sebanyak-banyaknya karena sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla sangat gembira menerima hamba-hambanya yang kembali bertaubat kepada-Nya.

Penulis: Wawan Idris