mhnews.id.- Rencana Pemerintah Kabupaten Indramayu membuat patung Ir. Soekarno atau Bung Karno di Alun-alun Puspawangi menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan, salah satunya budayawan dan seniman yang juga Penasehat Dewan Kesenian Indramayu (DKI), Dartim Yudha.
“Pembuatan patung Bung Karno merupakan hal yang bagus. Hal ini karena Bung Karno merupakan sang tokoh proklamator Republik Indonesia,” katanya kepada mhnews.id, Selasa (30/8).
Namun demikian, sebaiknya patung itu dibuat berpasangan, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta. Alasannya, sosok keduanya tidak bisa dipisahkan dalam perjuangan kemerdekaan RI. Keduanya sama-sama menjadi tokoh sentral proklamator dan untuk meminimalisir adanya unsur politis.
“Kurang setuju kalau yang dibuat hanya patung Bung Karno saja. Sebaiknya patung Bung Hatta pun dibuat karena sama-sama tokoh proklamator. Apalagi dalam sejarahnya Bung Karno saat beraktivitas di Indramayu tidak sendirian. Ia juga turut ditemani oleh Bung Hatta,” papar Dartim.
Disertakannya sosok Bung Hatta dinilai Dartim bisa menghindari adanya nuansa politis dalam pembuatan patung tokoh nasional tersebut. Bahkan akan lebih baik lagi jika patung tokoh lokal pun dibuat agar masyarakat mengenal sejarah perjuangan tokoh lokal.
“Atau lebih baik lagi, misalnya di Gantar atau Haurgeulis dibuat patung M.A. Sentot. Karena ini ada historisnya sekitar tahun 1947-1948 Soekarno-Hatta pernah berkunjung ke wilayah Indramayu,” paparnya. (Tahun 1947-1948 Bupati Indramayu dijabat M.I. Syafiuddin atas perintah Bung Karno).
Saat ke Indramayu Soekarno-Hatta datang ke Stasiun Jatibarang, Gantar, dan Kepandean. Mereka datang dalam satu misi untuk meyakinkan bahwa Indonesia merdeka berdaulat. Saat itu kunjungan tokoh proklamator dikawal M.A. Sentot yang merupakan tokoh pejuang Indramayu,” jelas Dartim.
Tanggapan senada disampaikan Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia, Nang Sadewo. Menurutnya pada saat membangun patung itu, story line kepentingannya harus jelas, artinya ada tidak korelasi manfaat bagi daerah itu.
Nang Sadewo tidak mempersoalkan tempat dibangunya patung itu, hanya saja menurutnya lebih baik patung itu dibuat berpasangan. “Saya tidak mempersoalkan di mana pun lokasi pembuatannya, yang harus diperhatikan adalah story line biografinya, ada ga keterkaitan sejarahnya,” ujar Dewo.
Ia menyarankan akan lebih bernilai jika dibuat bukan patung tetapi diorama pasangan tokoh proklamator. Diorama sendiri adalah sejenis benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau adegan. Dalam kontek ini adegan Soekarno-Hatta saat ke Indramayu.

Budayawan Nang Sadewo bersama budayaewan lainnya. Foto: blogger Mangga
“Pendapat saya justru lebih bagus jika dibuat diorama seperti di kota kabupaten lain. Hanya saja, perlu menekankan, pembuatan patung tersebut harus berdasarkan literasi yang mengandung cerita sejarah di tempat tersebut,” ujar Dewo.
Para budayawan berharap pemerintah daerah melibatkan mereka. Setidaknya budayawan bisa diajak berdiskusi untuk membedah pembuatan patung itu baik dari aspek sosiologis, pilosofis, maupun historisnya. Tujuannya agar tidak menimbulkan pro kontra dikemudian hari.
Tentang rencana pembuatan Patung Bung Karno, sebelumnya menjadi sorotan DPRD Indramayu dalam Rapat Paripurna pembahasan persetujuan Kebijakan Umum Anggaran Sementara (KUA-PPAS) RAPBD Tahun 2023 dan Anggaran Perubahan 2022.
Rapat ini, bahkan dua kali menemui jalan buntu. Anggota Dewan mempertanyakan pembuatan patung tersebut karena di luar rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




