mhnews.id.- Setiap menjelang Pemilihan Umum, khususnya Pemilihan Presiden isu Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan serta merta menyeruak ke ruang publik. Berbagai info sekitar partai terlarang di Indonesia ini menghiasi media sosial.
Seperti sekarang, PKI terus dihembuskan, bahkan dijadikan materi da’wah sebagian orang yang di’ustadz’kan jamaahnya. PKI secara nyata menjadi jualan dan bualan politik yang ujung-ujungnya hanya ingin mengganjal pigur tertentu sekaligus memuluskan figur lainnya.
Ingat PKI, maka ingat pula salah satu tokohnya, Dipa Nusantara Aidit atau lebih dikenal dengan panggilan D.N. Aidit. Pemimpin PKI ini dijadikan symbol kekejian terhadap kemanusiaan pada zaman Orde Baru dan berakhir tragis usai G30S PKI Tahun 1965.
Membaca sejarah kekejaman PKI yang dituliskan Orde Baru, rasanya kita ingin tahu bagaimana sosok pemimpinnya, dalam hal ini D.N. Aidit.
Bersumber dari buku ‘Aidit Sang Legenda’ (2005) D.N. Aidit bernama asli Achmad Aidit. Dia ternyata sejak kecil sudah khatam mengaji (Al-Qur’an). Sedari kecil, Achmad dan adik-adiknya dididik secara islami.
Saban hari sepulang sekolah, mereka belajar mengaji di bawah bimbingan sang paman, Abdurrachim. Orang-orang sekampung mengenal Achmad sebagai bocah yang alim, rajin ke masjid, juga pandai mengaji.
“[…] Bang Amat (Achmad Aidit) tamat mengaji, khatam Alquran. Kami semua khatam Alquran,” ungkap Sobron Aidit, adik tiri Achmad, yang dituliskannya dalam buku berjudul Aidit: Abang, Sahabat, dan Guru di Masa Pergolakan (2003).
Achmad kecil juga kerap bertugas melantunkan azan di masjid. Diungkap Satriono Priyo Utomo dalam Aidit, Marxisme-Leninisme, dan Revolusi Indonesia (2016), ia sering diminta untuk mengumandangkan azan karena suaranya dianggap keras dan lafalnya jelas.
Achmad Aidit atau yang kelak dikenal sebagai D.N. Aidit punya latar belakang yang baik. Lahir di Tanjung Pandan, Belitung, pada 30 Juli 1923, keluarga Aidit amat terpandang kendati merupakan warga pendatang. Keluarga Aidit berasal Sumatera Barat.
Ayah Achmad, yakni Abdullah bin Ismail, dikenal sebagai tokoh agama dan salah satu pelopor pendidikan Islam di Belitung. Ayah Aidit yang muslim taat ini pernah menggagas dan memimpin gerakan kepemudaan untuk menentang kolonial Hindia Belanda.
Perjalanan waktu membawa Achmad Aidit dari Belitung ke Jakarta. Pada 1940, ia mendirikan perpustakaan “Antara” di Senen. Achmad mengganti nama menjadi Dipa Nusantara dan disetujui oleh ayahnya.
Semasa di Jakarta, Aidit mulai mempelajari paham Marxisme yang saat itu belum termasuk ajaran terlarang di tanah air. Relasi Aidit semakin luas karena perkenalannya dengan tokoh-tokoh terkemuka termasuk Mohammad Yamin, juga Sukarno dan Mohammad Hatta.
D.N. Aidit menapaki karier politik di asrama mahasiswa Menteng 31 yang identik sebagai markas aktivis pemuda “radikal” kala itu. Ia berproses bersama kaum muda revolusioner seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, Subadio Sastrotomo dan lainnya.
Disebutkan pula bahwa Aidit turut terlibat dalam Peristiwa Rengasdengklok menjelang kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Namun, Aidit juga terlibat dalam perlawanan PKI di Madiun tahun 1948.
Setelah itu, Aidit sempat menghilang -ada yang menyebut ia berada di Vietnam bagian utara- sebelum muncul lagi menjelang Pemilu 1955. Aidit dengan cepat mengambil-alih kendali PKI dari golongan pemimpin tua macam Alimin dan Tan Ling Djie.
PKI meraup banyak suara di Pemilu 1955 bahkan masuk dalam jajaran 4 partai politik terbesar di Indonesia kala itu. PKI yang mengklaim punya anggota hingga 3,5 juta orang kala itu juga menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Cina.
Penulis : Wawan Idris
Sumber : tirto.id




