ADA dua perilaku berbeda yang dilakukan jamaah dalam sebuah masjid usai sholat subuh berjamaah. Beberapa orang, usai sholat lalu ia berzikir sebagaimana dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usai zikir ia masih berzikir dan tadarus hingga matahari terbit. Setelah itu barulah pulang.
Beberapa orang lagi, usai sholat lalu ia berzikir sebagaimana dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia bergeser ke belakang dan bersandar pada dinding masjid. Tak lama tampaklah ia tertidur pulas. Ketika matahari terbit ia terbangung lalu pulang.
Perilaku yang sama juga dilakukan jamaah lain yang sejak usai sholat dan zikir ia memilih pulang ke rumah masing-masing. Di rumahnya, ia tidak melakukan aktivitas apa pun seperti zikir atau tadarus. Tetapi ia memilih untuk tidur dengan alasan masih mengantuk.
Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اللهم بارك لأمتي في بكورها
“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.”
Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (H.R. Abu Daud).
Hadis itu cukuplah menjadi sandaran bagi para pengikutnya, bahwa beraktivitas yang positif: bekerja, mencari rizki, dan beramal kebaikan sangat utama dilakukan pada waktu pagi.
Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.
Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan.
Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”
Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan:
قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق
“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”
Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.
Penulis: Wawan Idris




