MHNEWS.id.- Sri Tanjung Sugiarti dikenal gigih melestarikan naskah kuno. Ini ia lakukan untuk menjalankan amanat mendiang sang ayah, almarhum Ki Tarka Sutarahardja yang dikenal sebagai pelestari sekaligus penyelamat 200 manuskrip Indrmayu.

Kini Sri Tanjung Sugiarti juga tengah gigih mengembangkan kreativitasnya memanfaatkan kayu bekas menjadi barang bernilai tinggi, seperti menjadi miniatur Kapal Layar maupun Perahu-perahuan Tempo Doeloe dengan sentuhan naskah kuno.

Dalam aktivitasnya ini Sri Tanjung Sugiarti tidak sendirian. Ia didukung penuh kerabat dekatnya dan pengurus Sanggar Aksara Jawa Surya Pringga Dermayu, Desa Cikedunglor, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu.

Diterangkan Sri Tanjung Sugiarti, Sanggar Aksara Jawa Surya Pringga Dermayu selain menjadi tempat belajar aksara Jawa Kuno juga memproduksi kertas daluwang yang berbahan baku dari pohon saeh.

Berkat kreativitasnya itu limbah pohon saeh dimanfaatkan menjadi barang bernilai rupiah. Dengan sentuhan seni tinggi, limbah disulap menjadi Kapal Layar dan Perahu-perahuan Tempo Doeloe.

Tak berhenti di situ, kreativitas dan jiwa seni tinggu Sri Tanjung juga menyempurnakan barang-barang seni itu dengan ornamen naskah kuno pada layarnya. Alhasil, kerajinan itu sangat unik, menarik, dan estetik.

“Kebetulan kayu tidak dimanfaatkan. Tapi sayang juga jika dibuang. Lalu tim kami menginisiasi untuk menjadi karya kreatif. Maka dibuatlah miniatur kapal dan perahu yang kami desain bernuansa dulu dan estetik,” ujarnya kepada MHNEWS.id, Kamis (23/2/2023).

Sri Tanjung Sugiarti dan Timnya. Foto: Toyib/mhnews.id

Hasil karya seni Sri Tanjung Sugiarti dari bahan dasar limbah pohon saeh berupa miniatur Kapal Layar dan Perahu-perahuan Tempo Doeloe dengan sentuhan tulisan naskah kuno ini dapat miliki atau dikoleksi siapa pun karena dijual secara umum.

Dijelaskan Sri Tanjung, baik miniatur kapal layar maupun perahu-perahuan tempo doeloe bentuknya disesuaikan dengan yang ada dalam Naskah Kuno. Jadi kerajinan ini dibuat sesuai literatur aslinya, kecuali ukurannya yang dibuat lebih kecil.

“Kapal layar maupun perahu-perahuan tempo doeloe yang ada dalam Naskah Kuno dan sudah dibuat miniaturnya adalah Perahu Konthing. Perahu Konthing ini tertera dalam Babad Dermayu. Miniatur yang kami buat ini dijual Rp 300.000,00,” tambahnya.

Sri Tanjung menjelaskan, tulisan kuno pada layar miniatur kapal layar maupun perahu-perahuan adalah nama Sanggar Aksara Jawa Surya Pringga Dermayu dan Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

“Tulisan itu nama Sanggar Aksara Jawa Surya Pringga Dermayu dan Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti yang artinya sehebat-hebatnya manusia akan hancur apabila dengan kesombongan,” pungkasnya.

Penulis  : Toyib
Editor    : Wawan Idris