MHNEWS.ID.- Objek wisata yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu tidak memiliki kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Bahkan dari setidaknya 14 objek wisata di Indramayu hampir semuanya selalu merugi. Alih-alih menyumbang PAD, Pemerintah Daerah malah harus nomboki biaya operasional.

Karena hal inilah Pemerintak Kabupatan Indramayu berencana menyerahkan pengelolaan seluruh objek atau destinasi wisata milik daerah kepada pihak ketiga atau swasta.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dispara) Kabupaten Indramayu, Ahmad Syazali, menjelaskan biaya operasional yang dikeluarkan pemerintah selama ini jauh lebih besar dibandingkan pemasukan yang diterima.

“Setelah kita evaluasi, pendapatan dari destinasi wisata ini tidak sebanding dengan pengeluaran yang kita keluarkan,” kata Syazali sebagaimana dikutip Kompas.com, Selasa (13/1/2026).

Syadali mengungkapkan salah satu contoh kerugian terjadi di objek wisata Pantai Tirtamaya. Destinasi populer tersebut hanya mampu menyumbang PAD sekitar Rp 280 juta per tahun, sementara biaya operasionalnya membengkak hingga Rp 380 juta.

“Kita minus sampai Rp 100 juta. Itu kan sayang juga, maka kita putuskan untuk dipihakketigakan saja,” ujar Syadali.

Kondisi defisit ini juga dialami oleh 14 objek wisata lainnya milik Pemkab Indramayu.

Atas dasar efisiensi tersebut, Bupati Indramayu Lucky Hakim memutuskan untuk membuka pintu bagi pihak swasta guna mengelola dan mengembangkan konsep wisata agar lebih kompetitif.

Beberapa investor dikabarkan sudah melirik kawasan Bojongsari yang memiliki aset seperti air terjun buatan, waterboom, hingga Gedung Iptek Mutiara Bangsa.

Skema kerja sama yang disiapkan nantinya berupa sistem bagi hasil agar pemda tetap mendapat pemasukan tanpa terbebani biaya perawatan.

“Biar nanti mereka mau seperti apa konsepnya. Kita tawarkan ke Pak Bupati, cocok atau tidak. Kalau cocok, nanti ada tim kajian yang kita ditugaskan,” katanya menambahkan.

Penulis: Wawan Idris