mhnews.id.- Gairah muda, bervisi jauh ke depan, ambisius, berjiwa futuris, dan terutama karena memiliki kekuasaan (absolut) membuat Perdana Menteri Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) leluasa mengelola pemerintahannya.
Di tangan Pangeran ini, sepertinya Kerajaan Arab Saudi tidak lama lagi akan mengalami perubahan besar-besaran. Bagaimana tidak, baru saja sepekan menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Pangeran MbS sudah mengumumkan proyek pembangunan di 12 kota.
Jika proyek yang akan digarapnya itu biasa-biasa saja tentu menjadi hal yang lumrah. Yang menjadi perhatian dunia, proyek yang diumumkannya itu justru super gila, ‘Proyek Gila-gilaan’. Karena super gilanya ini banyak kalangan menyangsikan untuk bisa diwujudkan.
Sebetulnya di kalangan pemerintahan Saudi sendiri rencana ini bukan hal baru. Sebab, proyek ini sejalan dengan Visi Saudi 2030 yang dicanangkan MbS pada 2016 lalu. Saat itu, Saudi tengah berupaya untuk mencari sumber pendapatan negara selain dari sektor minyak.
Di bawah payung besar Visi Saudi 2030, MbS ingin negaranya bisa memiliki sumber pendapatan lebih bervariasi pada 2030 mendatang. Karenanya sebelumnya pun sudah meluncurkan berbagai proyek pembangunan gila-gilaan untuk menggenjot sektor pariwisata.
Dengan ambisi itu, MbS mendobrak berbagai batasan, salah satunya saat mengizinkan pemakaian bikini di satu pantai Saudi dan penjualan minuman beralkohol. Keputusannya itu tentu saja menjadi kontroversi dan menuai protes dari kalangan ulama dunia.
Setelah ditunjuk menjadi PM pada pekan lalu, MbS diperkirakan bakal terus menggenjot program-program lainnya demi mencapai target Visi Saudi 2030.Dan dengan kekuasaannya itu MbS dipastikan akan mengabaikan semua kontroversi.
Mengenai proyek gila-gilaan, untuk merealisasikannya MbS memperkenalkan perusahaan Saudi Downtown Company (SDC). Perusahaan itu bertanggung jawab membangun dan mengembangkan 12 kota yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai sektor.
Melansir cnnindonesia, dari Arab News melaporkan bahwa 12 kota itu mencakup Madinah, Al-Khobar, Al-Ahsa, Buraidah, Najran, Jazan, Hail, Al-Baha, Arar, Taif, Dumat Al-Jandal, dan Tabuk.
Saudi Downtown Company bertugas meningkatkan infrastruktur dan menjalin kerja sama strategis dengan investor dan sektor swasta demi membangun bisnis dan investasi baru di kedua belas kota itu.
Sektor-sektor yang menjadi sasaran utama Saudi di kota-kota tersebut termasuk ritel, pariwisata, hiburan, dan perumahan. Dalam tiap proyek modernisasi kawasan itu, SDC akan menggunakan teknologi paling mutakhir.
Dengan peluncuran SDC ini, Lembaga Investasi Publik Saudi berharap dapat meningkatkan perdagangan dan kesempatan investasi di berbagai kota di Saudi.
Perusahaan anyar itu akan melakukan pembangunan di lebih dari 10 juta meter lahan. Di sana, mereka akan membangun destinasi-destinasi modern yang terinspirasi dari budaya lokal dan motif arsitektur tradisional.
Penulis: Wawan Idris




