“ALHAMDULILLAH Pak Supendi sudah bebas. Semoga beliau tetap sehat,” demikian beberapa pesan singkat melalui WhatsApp yang sampai kepada saya. Pesan dengan nada serupa juga terus mengalir sampai hari ini ke saluran telepon genggam saya.
Yang membuat saya takjub, dari puluhan pesan itu tidak ada satu pun yang bernada negatif. Padahal Supendi menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung itu karena terbelit kasus pidana korupsi. Lazimnya, masyarakat sangat membenci pelaku korupsi.
Kelaziman itu ternyata dikecualikan untuk sosok Supendi. Masyarakat Indramayu termasuk di dalamnya para elit politik, pejabat, mantan pejabat, tokoh ulama, dan sahabat seakan sepakat untuk tidak menambahkan hukuman kepada Bupati Indramayu Periode 2018-2019 setelah menjalaninya di Lapas Sukamiskin.
Hukuman yang telah dijalani Supendi memang sudah final, maka seharusnya dapat menyudahi segala kesalahan dan kehilafannya. Bukan berarti masyarakat permisif terhadap kekeliruannya itu, melainkan sesuai norma hukum yang berlaku di negeri ini, Supendi sudah menebus kesalahannya, dan kita harus menghormatinya.
Ketakjuban saya berikutnya adalah kunjungan elit politik, pejabat publik, mantan pejabat, dan tokoh ulama kepada Supendi di kediamannya di Kecamatan Bongas. Dari foto-foto yang beredar dan juga sampai ke telepon selular saya setidaknya Ketua DPRD Indramayu, Syaefudin dan Bupati Nina Agustina menjadi elit yang lebih dulu bersilaturohim.
Cukuplah saya menyebutkan dua pejabat elit Indramayu ini (Syaefudin dan Nina Agustina) yang dengan suka cita telah meluangkan waktu super sibuk mereka untuk bersilaturohim kepada Supendi. Keduanya sepertinya mempunyai pandangan yang sama mengenai sosok Supendi ini: sangat penting dan harus dipentingkan!
Dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Indramayu tahun 2024 figur Supendi memang sangat penting dan harus dipentingkan oleh siapa pun yang memiliki syahwat dan hasrat mencalonkan diri dalam Pilkada Bupati Indramayu 2024 mendatang.
Sosok Supendi itu menjadi penting dan harus dipentingkan karena dinilai memiliki pengikut yang loyal. Secara umum masyarakat Indramayu sangat mengenal Supendi. Secara umum pula masyarakat mengenal Supendi sebagai pemimpin yang baik, arif, mengayomi, moderat, dan sejumlah stiga positif lainnya. Karenanya ia merupakan lumbung suara dalam Pilkada.
Sampai saat ini memang belum terlihat siapa yang akan ‘memanfaatkan’ Supendi untuk keuntungan politiknya. Demikian juga dengan Supendi, entah ke warna apa hak politiknya diberikan. Walau pun saat ini dia sedang tidak memiliki hak untuk dipilih, namun tetap memiliki hak untuk memilih.
Secara historis mungkin juga idiologis Supendi dibesarkan dan karirnya di birokrasi maupun politik difasilitasi Partai Golkar, tentu secara normatif seharusnya berpihak pada partai berlambang pohon beringin diapit padi-kapas ini. Lebih dari itu, Supendi bahkan diharapkan menjadi orang tua yang mengayomi dan menyatukan semua kader untuk kebesaran dan kejayaan Partai Golkar (Indramayu).
Membaca historis demikian, maka kebebasan Supendi tentu menguntungkan Partai Golar dan dalam konteks Pilkada akan menguntungkan calon yang diusung partai ini. Namun politik itu begitu cair dan dinamis. Supendi bisa saja tidak memihak Golkar, akan tetapi berlabuh ke PDI-P, PKB, Gerindra, Demokrat, dan partai lainnya.
Tidak ada yang ‘abadi’ dalam politik karena begitu begitu cair dan dinamis. Yang abadi hanya kepentingan dalam politik. Itulah sebabnya keputusan politik bisa berubah dalam hitungan detik, bergantung deal tidaknya kepentingan politik.
Supendi dengan segala kapasitas dan popularitasnya, bisa saja memerankan diri sebagai king maker dalam hajat Pilkada Indramayu tahun 2024. Maka siapa cepat mengakomodir kepentingannya, dialah yang akan mendapatkan keuntungannya.
Penulis: Wawan Idris




