MHNEWS.id. Semua orangtua mendambakan anaknya saleh, salehah, dan dapat menjadikan buah hatinya itu sebagai generasi islami yang menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidupnya.

Berbagai ikhtiar dilakukan orangtua untuk mewujudkan impiannya tersebur. Berikut prinsip kedua dan ketiga yang dapat dilakukan orang tua kepada anak-anak.

Kedua, Mendidik Anak dengan Contoh. Lingkungan anak saat masih kecil, terbatas pada lingkungan orang tua, rumah, dan orang-orang di sekitarnya.

Ilustrasi mendidikan anak secara Islam. Foto: dok. dream.co.id

Jika anak berbuat salah, perlu dikoreksi darimana ia meniru perilaku salah tersebut. Bisa jadi, anak meniru apa yang dilakukan orang tua, seperti apa yang mereka lihat dan dengar.

Dari kondisi tersebut, cara mendidik anak secara Islami yang paling mendasar ialah orang tua harus berperilaku yang baik dan jadi contoh baik bagi anak.

Tanpa disadari orang tua, kadang anak melihat kebiasaan-kebiasaan orang tua dan akan meniru. Jadi, orang tua harus benar-benar berhati-hati dalam berperilaku dan bertindak.

Seperti riwayat Al-Bukhari, “Anda (Kalian) adalah wali dan bertanggung jawab atas dakwaannya. Penguasa yang memiliki otoritas atas orang adalah wali dan bertanggung jawab atas mereka, seorang lelaki adalah penjaga keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang wanita adalah penjaga rumah dan anak-anak suaminya, bertanggung jawab atas mereka…”

Dari riwayat tersebut, kita bisa tahu kalau setiap orang tua akan dipertanyakan bagaimana tanggung jawab mereka dalam mendidik anak di hari akhir kelak.

Ketiga, Mendidik Anak dengan Kebaikan dan Kasih Sayang. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok penuh kasih sayang pada orang-orang di sekitarnya, terutama pada anak-anaknya.

Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Shaddad dikatakan bahwa, ketika Rasul sedang salat dan bersujud, seorang anak menaiki punggung Rasul, dan dibiarkan. Bahkan Rasul sangat lama bersujud menunggu sang anak turun dengan sendirinya.

Rasul mengajarkan pada kita, sifat dasar anak adalah bermain. Sudah wajar kalau mereka berbuat demikian, dan Rasul tidak berusaha menghentikan mereka, karena bermain dan bercanda penting untuk perkembangan anak. Baik perkembangan fisik, emosional, kognitif, dan sosial.

Cara mendidik anak secara Islami tidak harus selalu memaksa anak untuk belajar dan belajar, biarkan anak bermain dan bebas berekspresi seperti yang mereka inginkan.

Jangan marahi mereka ketika berbuat salah, beri penjelasan dengan kasih sayang. Seperti yang sudah dilakukan oleh suri tauladan umat Islam, Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam. (bersambung)

Penulis: Nia Herlina (Pengurus PKK Kabupaten Indramayu)