ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Dalam keadaan lelah dan terutama mengantuk kita seringkali menguap.

Bahkan saat kantuknya itu sangat kuat, biasanya menguap pun sangat hebat. Dalam kondisi seperti itu, rasa-rasanya sulit sekali menahan untuk tidak menguap.

Menguap dapat memberikan rasa nikmat. Karenanya seringkali banyak di antara kita yang berlebihan saat menguap. Bahkan mungkin di antara kita ada yang suka memanjang-manjangkan suara kuapnya dengan mulut yang terbuka lebar.

Saat kita sendirian membuat-buat kuap seperti itu tidaklah masalah. Lain halnya saat kita sedang bersama orang lain, apalagi orang tua atau atasan.

Tentu saja menguap tidak bisa seenaknya. Nah, kalau dalam hubungan sosial saja kita tidak bisa seenaknya enguap, lalu bagaimana menurut agama Islam?

Tahukah Saudaraku, dalam Islam sebagaimana ditulis Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani dalam almanhaj.or.id., menguap pun ada adabnya.

Karenanya sehebat apa pun rasa kantuk, sebisanya kita harus menahan. Kalau pun tidak mampu maka dengan menahan agar jangan sampai mulut terbuka lebar, itu sudah baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kuapan (menguap) itu datangnya dari syaitan. Jika salah seorang di antara kalian ada yang menguap, maka hendaklah ia menahan semampunya.” .

Apabila tidak mampu menahan, maka tutuplah mulut dengan meletakkan tangannya pada mulutnya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Apabila salah seorang di antara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syaitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).” .

Penulis: Wawan Idris