mhnews.id.- Bagi SDN 2 dan SDN 3 Widasari kebanjiran saat musim hujan sudah menjadi hal biasa. Sudah sejak lama dua SDN di Kecamatan Widasari, Indramayu yang berada satu lokasi ini selalu terendam air manakala hujan turun.
Seperti saat ini, sudah hari, sejak Selasa (24/01/2023) air menggenangi kedua sekolah SDN itu. Ketinggian air sekitar 10 – 30 centimeter. Sampai hari ini pun air masih menggenangi halaman sekolah.
Para siswa pun harus melewati halaman yang tergenang air untuk masuk ke ruang kelas mereka. Karenanya, bagian bawah seragam mereka menjadi basah. Mereka juga harus melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal atau tanpa alas kaki sama sekali.
Karena kakinya basah apalagi yang tanpa sandal para siswa jadi kedinginan. Tak heran jika mereka pun tidak nyaman. “Gak nyaman belajarnya, kaki jadi dingin,” ujar seorang siswa kelas enam SDN 3 Widasari, Nugi (12) saat ditemui, Rabu (25/01/2023).
Hal senada diungkapkan siswa lainnya, Putra (12). Dia pun mengaku tidak nyaman belajar dalam kondisi seperti itu. Apalagi, seragam sekolahnya menjadi basah sehingga dia terpaksa menggantinya dengan baju yang sudah disiapkan dari rumah.
Meski genangan banjir itu tak sampai masuk ke dalam ruang kelas, namun ruang kelas terlihat menjadi becek dan kotor. Sebelum pulang sekolah, para siswa pun berinisiatif melakukan kerja bakti untuk membersihkan ruang kelas dan selasar sekolah mereka yang kotor dan becek.
Guru Agama di SDN 3 Widasari, Rofikin, menjelaskan banjir memang sudah menjadi langganan di sekolah tempatnya mengajar itu. Setiap kali hujan turun dengan deras, maka halaman sekolah pasti akan tergenang banjir.
“Pokoknya kalau malamnya hujan besar, anak-anak sudah hafal, pasti banjir. Makanya mereka berangkat ke sekolah juga langsung pakai sandal,” kata Rofikin kepada mhnews.id.
Rofikin menjelaskan, banjir terjadi karena posisi halaman sekolah lebih rendah dari jalan raya maupun saluran irigasi yang ada di depan sekolah. Akibatnya, air hujan yang masuk ke halaman sekolah jadi tidak bisa keluar.
Rofikin mengatakan, banjir biasanya akan surut dalam waktu satu sampai dua hari. Namun jika hujan terus-terusan seperti beberapa hari terakhir, maka banjir lebih lama surutnya. “Jadi ya tidak bisa dipastikan, tergantung hujannya,” tutur Rofikin.
Rofikin mengakui, banjir tidak sampai masuk ke dalam ruang kelas. Meski demikian, kondisi tersebut tetap membuat aktivitas belajar mengajar jadi tidak nyaman. Pihaknya pun, baik guru dan siswa berharap ada solusi atasi banjir ini.
Dikatakan Rofikin, Kabid Pembinaan SD, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu maupun camat setempat sudah mengetahui kondisi tersebut. Bahkan, keduanya sudah datang untuk melihat kondisi sekolah.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




