Oleh Dr. Supriyanto Sayama
(E-mail: hujandikm97@gmail.com)
SIAPA saja yang beruntung atau diuntungkan oleh gelaran KTT G20 di Bali, beberapa waktu lalu? Tampaknya banyak yang memperoleh cuan. Salah satu yang menonjol adalah kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan superioritasnya di dunia internasional. Apa saja superioritas Indonesia yang dimaksud? Tulisan singkat ini hendak mendeskripsikan hal itu sebagai sebuah testimoni rasa bangga penulis sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar ini.
Tema yang diusung oleh Indonesia saat memperoleh kesempatan untuk menduduki kursi presidency (keketuaan) G20 pada akhir Oktober 2021 adalah Recover Together, Recover Stronger yang dalam bahasa Indonesia sepadan dengan gabungan kata “Pulih Bersama, Pulih Lebih Kuat”. Tema tersebut jelas sangat relevan dengan kondisi masyarakat G20, bahkan masyarakat sedunia, yang sedang berusaha bangkit dari kejatuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Di saat beberapa negara sedang berupaya bangkit dari keterpurukan akibat Covid-19, kondisi ekonomi dunia mendadak berubah sebagai imbas dari perang Rusia vs Ukraina yang dimulai 24 Februari 2022. Saat harga-harga komoditas yang terkait dengan supply and chain dari kedua negara yang berperang tersebut meningkat, melambung tinggi, banyak negara geram terhadap Rusia.
Wajar saja mereka geram sebab selama ini (sebelum perang terjadi) Rusia merupakan pemasok sumber energi utama negara-negara Barat seperti Jerman, dan sumber produksi berbagai produk konsumer lainnya. Ketika pasokan tersebut, misalnya pasokan gas terhenti, maka harga energi di Eropa melambung tinggi. Tidak heran jika hal ini berimplikasi terhadap banyaknya tekanan yang diterima Indonesia sebagai pemegang keketuaan G20. Pada umumnya, negara-negara Barat meminta bahkan menekan Indonesia untuk mengucilkan Rusia.
Namun faktanya, Indonesia mampu menunjukkan superioritasnya sebagai negara yang tidak bisa ditekan oleh negara-negara Barat. Alih-alih menuruti tekanan negara-negara Barat, dengan caranya sendiri, diplomasi Indonesia justru menyodorkan diri sebagai mitra mereka dan mitra negara-negara yang sedang berperang yang bisa dipercaya sebagai jembatan penghubung dari banyaknya perbedaan.
Hasil-hasil KTT G20 Bali
Sebelum KTT G20 di Bali, Indonesia sudah memulai diplomasinya dengan menghadiri KTT G7 di Jerman (Juni 2022), bahkan diakhiri dengan kunjungan Presiden Joko Widodo kepada kedua negara yang sedang berperang (Ukraina dan Rusia). Ditambah dengan serangkaian diplomasi oleh Jakarta terhadap anggota G20, maka KTT G20 Bali pun akhirnya berhasil merumuskan 52 deklarasi setebal 17 halaman. Deklarasi tersebut mencakup isu-isu seperti: arsitektur kesehatan global, transisi energi, dan transformasi digital.
Isu yang terakhir disebut (transformasi digital), merupakan hal penting bagi Indonesia pada hari-hari ini. Kondisi ini dinilai relevan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang dari hari ke hari kian membaik. Penopang pertumbuhan transformasi digital ada pada masifnya pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia.
Data hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021 lalu menampakkan bahwa 62,10% populasi di Indonesia telah mengakses internet dari yang sebelumnya hanya 53,73% di tahun 2020. Data penunjang lainnya adalah besarnya pertumbuhan angka pembayaran digital (digital banking). Dalam hal ini Bank Indonesia mencatat nilai transaksi uang elektronik melesat 35,79% YoY pada kuartal III 2022, dan transaksi digital banking tumbuh sebesar 27,82% YoY.
Selain menghasilkan deklarasi, KTT G20 di Bali pun memberikan manfaat bagi beberapa negara besar yang memanfaatkan momen KTT untuk meraih benefit sebesar-besarnya. Beberapa benefit tersebut misalnya, dapat bertemunya para pemimpin negara-negara besar, seperti pertemuan presiden AS Joe Biden dengan presiden China Xi Jinping. Kedua pemimpin negara yang selama ini terlibat dengan perang dagang tersebut mampu meredakan ketegangan yang selama ini terjadi.
Di balik keberhasilan KTT G20, yang oleh sementara kalangan disebut melebihi ekspektasi, muncul pertanyaan: bagaimana Indonesia bisa sesuperioritas itu dalam memegang keketuaan G20?
Indonesia Miliki Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi
Keberhasilan Indonesia menunjukkan superioritasnya ternyata ditopang oleh kondisi perekonomian yang membaik, bahkan Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi ke-2 di bawah Arab Saudi, di antara anggota G20.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia mampu menembus persentase sebesar 5,72% per kuartal III 2022. Angka ini melebihi pertumbuhan pada kuartal sebelumnya, kuartal II yang telah mencapai 5,44%. Angka tersebut pun jelas lebih baik dibanding kuartal yang sama (kuartal III, saat pra pandemi) pada tahun sebelumnya (2019) dengan catatan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02%.
Cukup data itukah superioritasnya? Ternyata tidak. Data kinerja kuartalan PDB telah tumbuh 1,81% QoQ. Pertumbuhan PDB berdasarkan komponen pengeluaran ditopang oleh segmen ekspor sebesar 21,64% YoY. Secara kasat mata, kinerja ekspor yang meningkat ini terjadi saat perang Rusia vs Ukraina. Kondisi perang telah membuat harga beberapa komoditas meningkat, sehingga nilai ekspor Indonesia dalam bidang batu bara, hasil minyak dan gas alam mengalami peningkatan harga dan jumlahnya.
Lebih detailnya, berikut ini adalah urutan dari tertinggi ke terendah nama negara dan peringkat pertumbuhan ekonomi pada Q3/2022, yaitu: Arab Saudi 8,60% YoY, Indonesia 5,72% YoY, Singapura 4,40% YoY, Meksiko 4,20% YoY, China 3,90% YoY, Spanyol 3,80% YoY, Korea Selatan 3,10% YoY, Italia 2,60% YoY, Inggris 2,40% YoY, Uni Eropa 2,10% YoY, Amerika Serikat 1,80% YoY, Jerman 1,20% YoY, dan Prancis 1,00% YoY. Sementara itu sampai naskah ini disusun, terdapat 7 negara anggota G20 lainnya yang belum merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III tahun 2022.
Di manakah letak superiositas Indonesia dalam hal pertumbuhan ekonomi ini? Posisi superioritas tersebut ada pada fakta bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat pertumbuhan ekonominya di saat tersiar kabar akan terjadinya resesi global di tahun 2023 nanti. Dalam kondisi yang sama, beberapa negara maju justru masih berkutat dengan inflasi tinggi yang berpotensi menimbulkan resesi.
Pemilihan lokasi KTT G20 di Bali pun memberikan poin tersendiri bagi penampakkan superioritas Indonesia. Selama ini, Bali memang sudah menjadi ikon pariwisata dunia yang berbagai harga barang dan pelayanannya sudah dihitung menggunakan dollar US. Tentang Bali dan seisinya, dunia malah dibuat semakin paham tentang kelebihan Indonesia dan dunia pariwisatanya itu. Semoga, ke depan, Indonesia akan semakin superioritas.****
*Penulis adalah salah seorang Pegawai di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Indramayu, alumni Program Doktor (S3) Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia.




