Oleh Entang Sastraatmadja
Penulis adalah Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat
TABIR adalah tirai penyekat (pendinding) atau penutup dinding. Hal itu biasanya digunakan untuk memisahkan ruang kaum wanita dengan ruang kaum pria.
Terkait dengan “tabir petani milenial” sendiri, lebih menjurus ke pembeberan petani milenial, yang dalam perkembangannya memperlihatkan hal-hal yang kurang menyenangkan.
Petani Milenial muncul menjadi perbincangan publik dalam beberapa tahun belakangan seiring dengan berkembangnya era Milenial.
Sebagaimana yang kita ketahui, Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y atau Generasi Langgas) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini.
Generasi Y atau Milenial lahir tahun 1981-1996. Dengan bahasa lain dapat juga dikatakan, Generasi Milenial atau generasi Y adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1980 hingga tahun 1995 pada saat teknologi telah maju.
Mereka tumbuh di dunia yang telah mahir menggunakan media sosial dan juga smartphone sehingga otomatis mereka sangat mahir dalam teknologi.
Banyak pemikiran yang memaknai Petani Milenial sebagai program pengembangan wirausaha tani yang melibatkan petani-petani muda di bidang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan serta korporasi/para pemangku kepentingan lain agar terciptanya ekosistem pertanian yang mandiri, maju dan berkelanjutan.
Ada tiga ciri generasi petani milenial diantaranya berusia 19 – 39 tahun, memiliki jiwa milenial, bersikap adaptif terhadap teknologi digital, dan memiliki jaringan kerjasama usaha.
Kelebihan yang dimiliki oleh generasi milenial tentunya sangat banyak seperti memiliki wawasan yang luas dan selalu ingin tahu, kreatif, inovatif, terbiasa dengan multi tasking, fleksibel dalam menghadapi perubahan dan lain sebagainya.
Ciri petani milenial adalah militan, punya rasa ingin tahu yang tinggi dan menguasai teknologi dan mempunyai jejaring yang luas, terutama program-program yang inovatif dan kolaboratif dalam menumbuhkan wirausaha muda pertanian.
Menurut catatan (BPS per 2021), persentase pemuda usia 16-30 tahun yang bekerja di sektor pertanian terus turun. Kini hanya ada 3,95 juta petani muda yang termasuk generasi milenial, atau 21,9% dari total petani di Indonesia.
Bila dicermati dari konsep yang dirancang Kementerian Pertanian, tujuan utama program petani milenial sendiri diarahkan agar dapat mencetak agropreneur muda sebagai sumberdaya manusia pertanian yang handal.
Petani Milenial bukan lagi “petani subsisten”, namun menjadi “petani pengusaha”. Selain itu juga dapat menjadikan usaha agribisnis sebagai mata pencaharian yang menjanjikan dan bisa menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan.
Di sisi lain, ada juga informasi menarik untuk dicermati lebih seksama yang dikeluarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (PDSIKP).
Menurut PDSIKP pada 2020 proporsi tenaga kerja di sektor pertanian yang berlatar belakang pendidikan dasar sebesar 83%, pendidikan menengah sebesar 15%, dan pendidikan tinggi hanya sebesar 2%. Dari segi usia, terlihat adanya penuaan tenaga kerja di sektor pertanian.
Dominasi petani tua dengan usia di atas 45 tahun tercatat sebanyak 71% dan menyisakan petani berusia kurang dari 45 tahun sebesar 29%. Data ini mempertegas, kaum muda di negeri ini betul-betul tidak berhasrat jadi petani.
Hal ini terjadi karena salah satu nya dipengaruhi oleh citra sektor pertanian yang kurang membanggakan bagi generasi muda dan kurang bisa memberikan imbal hasil yang memadai menurunkan minat untuk menjadi petani.
Kebijakan untuk mencetak Petani Milenial diharapkan mampu memberi solusi atas masalah regenerasi petani yang sekarang ini tampil menjadi kendala utama dalam keberlanjutan pembangunan pertanian kita.
Menurunnya minat anak muda menjadi petani, khusus nya petani padi, memang sudah berlangsung sejak lama.
Kaum muda pedesaan, apalagi kaum muda perkotaan, terekam sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menjadikan petani sebagai profesinya.
Mereka, rupa nya paham betul, menjadi petani tidak akan menjadikan kehidupan nya sejahtera. Jadi petani sama saja menenggelamkan diri ke lautan kemiskinan yang tak berujung pangkal.
Petani adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan. Tidak ada juga jaminan, bila jadi petani bakal hidup sejahtera.
Kaum muda pedesaan melihat dan merasakan bagaimana nelangsanya para orang tua mereka yang menjadi petani, melakoni kehidupan sehari-hari. Sekedar menyambung nyawa saja, mereka sudah sangat kesusahan.
Lalu, apakah Petani Milenial adalah kaum muda yang selama ini merasakan bagaimana pahit getirnya jadi petani? Rasanya tidak.
Petani Milenial umumnya kaum muda perkotaan yang berpendidikan cukup tinggi dan menjadikan sektor pertanian (dalam arti luas) sebagai peluang bisnis. Itu sebabnya banyak pihak menyebut Petani Milenial adalah Petani Pengusaha.
Anehnya, mengapa setelah sekian tahun berjalan, jarang Petani Milenial yang tertarik untuk berkiprah dalam budidaya padi. Para Petani Milenial ini lebih suka berkiprah di komoditas hortikultura.
Kalau pun Petani Milenial ada yang tertarik dalam Agribisnis Perberasan, dirinya lebih memilih untuk menjadi pebisnis beras, dari pada berkiprah di aspek budidaya padi. Pilihan di hilir lebih rasional ketimbang hulu.
Sebab, nilai tambah ekonomi terbesar dalam agribisnis perberasan, berada di sisi hilir. Akibatnya wajar, jika Petani Milenial yang bergerak di bisnis beras, jarang yang mau terjun langsung di hulunya.
Petani Milenial yang dikembangkan di berbagai daerah, lebih mengedepan sebagai program Pemerintah Daerah dalam menjawab masalah krusial regenerasi petani. Sebut saja, program Petani Milenial di Jawa Barat.
Dalam sebuah diskusi ringan terkait dengan pembangunan petani di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat muncul pertanyaan:
Apakah betul Program Petani Milenial yang salah satunya digelindingkan Pemprov Jawa Barat akan mampu menyelesaikan masalah alih generasi dalam dunia kepetanian di negeri ini?
Lalu, apa jaminannya, kaum muda yang saat ini sudah diberi predikat Petani Milenial oleh Pemerintah, bakalan konsisten untuk menjadikan dirinya tetap sebagai Petani Milenial? Quo Vadis Petani Milenial?
Pertanyaan yang terakhir diajukan, benar-benar cukup menggelitik. Mau dibawa ke mana Program Petani Milenial ini?
Bagaimana sikap penyelenggara ketika suara-suara sumbang mulai mengudara dan membuat penyelenggara Program Petani Milenial sedikit gelagapan menjawabnya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tentu saja memancing para peserta diskusi untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran cerdas nya. Peserta diskusi yang kedinginan karena cuaca dingin pegunungan pun tiba-tiba terhentak mendengar kata Petani Milenial.
Rata-rata peserta diskusi menyangsikan Program Petani Milenial akan mampu menjadi solusi untuk regenerasi petani. Di mata salah seorang peserta diskusi, Program Petani Milenial lebih mengedepan sebagai pencitraan ketimbang program yang terterapkan di lapangan.
Salah satu alasan, mengapa Program Petani Milenial tidak akan mampu menjadi solusi regenerasi petani, karena ketidak-utuhan Program Petani Milenial dalam desain perencanaan nya.
Hal ini penting kita cermati, mengingat istilah Milenial sendiri, sangatlah kurang cocok digunakan sebagai ikon dalam kehidupan petani.
Menyikapi hal yang demikian, peserta diskusi lebih memilih menggunakan sebutan Petani Muda ketimbang Petani Milenial. Suka atau tidak, begitulah aspirasi yang muncul dalam diskusi ringan tersebut.
Fenomena yang digambarkan di atas, jelas menunjukan apa yang diharapkan dari pengembangan Program Petani Milenial, ternyata dalam kenyataannya masih jauh dari yang diinginkan.
Petani Milenial seperti nya tidak akan mampu mensolusikan masalah yang selama ini menjerat kehidupan kaum muda yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga petani gurem dan buruh tani.
Mereka seolah-olah tampil hanya sebagai penonton, menyaksikan anak muda perkotaan yang telah memproklamirkan diri sebagai Petani Milenial itu.
Padahal, salah satu tujuan regenerasi petani padi adalah melahirkan petani muda yang maju, modern, dan profesional, yang sebagian besar dari mereka, mestinya berangkat dari petani berlahan sempit.
Dengan demikian, ke depan kita berkewajiban pula untuk menggeser status dari petani subsistem ke arah petani pengusaha.
Berkiprah menjadi petani bukan cuma sekedar menghasilkan produksi, namun juga akan mampu menjual hasil produksinya dengan harga jual yang menguntungkan.
Ini penting dicatat, karena Petani Milenial memang mesti mampu menampilkan dirinya sebagai Petani Pengusaha pula. ***




