mhnews.id.- Kenaikan harga Bahan Bakar Minya (BBM) yang telah diberlakukan pemerintah sejak dua hari lalu semakin membuat para perajin kerupuk di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Indramayu terhimpit kesulitan.
“Belum juga pulih akibat diterpa wabah Covid-19 selama dua tahun lebih kini usaha kami hadapkan kenaikan harga BBM yang tak kalah bikin rumit,” keluh Manajer Kerupuk Padi Kapas, Dody saat dikonfirmasi mhnews.id, Selasa (6/9) di kediamannya.
Namun demikian diakui Dody, para perajin optimis bisa melewati masa-masa krisis ini. Alasannya, tidak hanya sekali-dua kali usaha mereka diterpa badai namun berkat ketekunan, keuletan, kegigihan, dan terutama adanya hubungan harmonis antara pemilik pabrik dengan pekerjanya mereka bisa selamat.
Ditegaskan Dody produksi kerupuk Desa Kenanga akan terus berkelanjutan kendati harga BBM naik. Sebelumnya pengrajin kerupuk pernah mengalami masa sulit ketika Covid-19 mewabah dua tahun lalu. Pada saat itu penjualan mengalami penurunan sampai 60 persen karena daya beli masyarakat menurun drastis.
“Bukan kali ini saja kita mengalami kondisi kaya ini (kesulitan). Paling sulit waktu Covid-19, kerupuk diproduksi tapi pembeli tidak ada. Karena itu kita akan hadapi situasi kenaikan harga BBM ini dengan melakukan subsidi silang yang penting masih bertahan,” kata Dody.
Dikatakan Dody, dampak yang paling dirasakan pengrajin kerupuk dengan kenaikan harga BBM ini adalah kelangkaan bahan baku seperti tepung tapioka, gula pasir, dan ikan.
Bahan baku ini masih tergantung dari luar, kecuali ikan yang bisa di beli di Indramayu itupun hanya 60 persen dari kebutuhan produksi, selebihnya menunggu kiriman nelayan dari Rembang.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




