MHNEWS.id.- Suasana wilayah Tepi Barat, Al-Quds, dan Palestina sampai sekarang tidaklah baik-baik saja. Pasukan Israel senantiasa menjaga dan patroli di wilayah tersebut untuk mempersempit ruang gerak kaum muslim.

Namun demikian, ketatnya penjagaan tentara Israel tidak menyurutkan semangat ummat Islam setempat untuk beribadah, terutama sholat Tarawih pada bulan Ramadhan 1444 Hijriah di masjid Al-Aqsa.

Melansir Palinfo, puluhan ribu jemaah dan warga Palestina melaksanakan shalat Tarawih yang pertama di Ramadan 1444 H/2023 M di Masjid Al-Al-Aqsa, Rabu (22/3/2023).

Halaman masjid Al-Aqsa dipenuhi dengan para jemaah shalat Tarawih yang datang berbondong-bondong dari berbagai wilayah Al-Quds, Tepi Barat, dan dari wilayah Palestina untuk mendirikan shalat berjamaah Tarawih.

Sebagaimana diketahui Al-Quds, Tepi Barat, dan Palestina diduduki penjajah Israel sejak tahun 1948 (Palestina 48). Masyarakat Palestina sudah melakukan berbagai upaya untuk memerdekakan diri dari Israel. Namun sampai sekarang belum berhasil.

Pada bulan Ramadhan ini ummat Islam di ketiga wilayah tersebut mengajak untuk terus berjuang melawan Israel. Berbagai seruan terus digelorakan masyarakat Palestina untuk lebih meningkatkan ibadah.

Masyarakat juga melakukan mobilisasi ke Masjid Al-Aqsa dan melakukan perjalanan ke sana selama bulan Ramadhan, dengan menghidupkan kembali shalat Tarawih di dalamnya dan berbuka puasa bersama di halamannya.

Kegiatan itu bertujuan untuk menggagalkan rencana pendudukan Zionis Israel dan para pemukim pendatang Yahudi di Masjid Al-Aqsa. Gerakan Perlawanan Islam Hamas meminta mereka tetap bersiaga di Masjid Al-Aqsa.

Hamas juga mendukung perjalanan masyarakat dan bersiaga di dalam masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadhan, sebagai respon atas seruan untuk melindungi Al-Quds dan Al-Aqsa dari rencana yahudisasi dan pembagian masjid.

Hamas meminta warga di seluruh Tepi Barat, Al-Quds, dan Palestina 48 untuk melakukan mobilisasi umum dan selalu bersiap untuk menghadapi kejahatan pendudukan Zionis Israel dan meneror para pemukim pendatang Yahudi, dengan segala cara yang bisa dilakukan.

Penulis: Wawan Idris