MHNEWS.id.- Presiden Joko Widodo mewanti-wanti pihak operator Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) untuk secara cermat mengkalkulasi atau menghitung besaran tarif yang akan diberlakukan.
Ditegaskan Presiden Joko Widodo dibangunnya KCJB tujuannya antara lain ingin mendorong agar masyarakat berpindah dari mobil ke transportasi massal, baik itu kereta cepat, MRT, LRT, atau bus.
Dengan demikian, soal tarif KCJB berapa pun harus dalam kerangka membuat masyarakat tertarik menggunanakannya. Meskipun demikian Presiden Joko Widodo sendiri memahami ada potensi tiket yang tanpa disubsidi itu akan menjadi mahal.
Dijelaskan, pemerintah saat ini tengah menggodok besaran tarif untuk Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Dipastikan, kereta cepat pertama di Asia Tenggara itu tak akan mendapatkan subsidi tarif alias Public Service Obligation (PSO).
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan hal ini, usai menjajal kereta tersebut. Jokowi mengatakan, tarif ini akan diputuskan lebih lanjut oleh operator yang dalam hal ini ialah PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Keputusan juga akan berdasarkan hasil konsultasi bersama dengan Kementerian Perhubungan. Yang pasti tiket KCJB ini tidak akan mendapatkan subsidi dari pemerintah.
“Tidak ada subsidi,” tegasnya, dalam konferensi pers di Stasiun Kereta Cepat Padalarang, Kabupaten Bandung, Rabu (13/9/2023).
Walaupun harga tiket berpotensi jadi mahal tanpa adanya subsidi, Presiden Joko Widodo menjamin tarif akan benar-benar diperhitungkan agar transportasi ini mampu membuat masyarakat tertarik menggunakannya.
“Itu dia. Semuanya kan ada kalkulasinya, semuanya ada hitung-hitungannya. Mestinya. Tapi apapun yang paling penting, kita ingin mendorong agar masyarakat berpindah dari mobil ke transportasi massal, baik itu kereta cepat, MRT, LRT, bus,” jelasnya.
Moda transportasi baru ini, diharapkan Presiden Joko Widodo bisa mendorong perpindahan dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik. Dengan demikian, kereta ini bisa membantu mengurai kemacetan dan mengurangi polusi udara, utamanya di jalur Jabodetabek-Bandung.
Sementara itu, Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan, pihaknya mengusulkan tarif KCJB sebesar Rp 300 ribu. Besaran itu sudah termasuk tarif LRT ke Stasiun Halim, serta kereta api feeder dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Bandung.
“Kita sih mengusulkan Rp 300 ribu. Sudah dengan feeder (dari Stasiun Padalarang ke Bandung), LRT (ke Stasiun LRT Halim). Tapi kan masih kita diskusikan dengan KAI dan LRT,” katanya, saat ditemui di Stasiun Kereta Cepat Halim, Jakarta Timur, Rabu (13/9/2023).
Sementara untuk tarif keretanya sendiri tanpa feeder dan LRT, KCIC mengusulkan besarannya Rp 250 ribu per penumpang untuk kelas premium ekonomi. Berbeda dengan tarif untuk kelas di atasnya yang akan terus mengalami penyesuaian.
“Soalnya kan first class dan business class kan pasti kita menggunakan dynamic pricing. Karena segmennya kan berbeda, segmented-lah kalau itu,” jelasnya.
Penulis: Wawan Idris




