DALAM percakapan, bahkan terutama doa-doa istilah ‘berkah atau keberkahan’ seringkali terucap, antara lain: “Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan keberkahan kepada kita semua.” “Ya, Rabb limpahkanlah rizki dan kehidupan yang berkah.” “Carilah rizki yang halal dan berkah.”
Apa sebenarnya arti atau makna dari istilah atau kata ‘berkah dan keberkahan’ itu? Secara ilmu bahasa, al-barakah, berarti berkembang, bertambah dan kebahagiaan. Dan Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Asal makna keberkahan, ialah kebaikan yang banyak dan abadi.”
Merujuk pada makna di atas maka berkah atau keberkahan adalah sesuatu (rizki atau hidup dan kehidupan) yang selalu bekembang, bertambah, dan membawa kebahagiaan yang (abadi). Rizki yang berkah berarti rizki yang bisa berkembang, bertambah banyak, membawa kebahagiaan yang (abadi).
Mengenai makna terakhir ‘abadi’ (membawa kebahagiaan yang ‘abadi’) akan diraih di akhirat nanti. Harus diyakini sesuatu yang diperoleh dan memililiki nilai keberkahan memang pada akhirnya akan abadi, sampai di akhirat kelak.
Lalu bagaimana cara memperoleh keberkahan dalam hidup secara umum atau secara khusus berkaitan dengan rizki dan pekerjaan. Berdasarkan dalil dan Qur’an tTerdapat dua syarat yang mesti dipenuhi, yaitu:
Petama, Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Inilah syarat pertama dan terpenting agar rezeki kita diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan merealisasikan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. .
Di antara perwujudan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkaitan dengan penghasilan, ialah senantiasa yakin dan menyadari bahwa rezeki apapun yang kita peroleh merupakan karunia dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan semata-mata jerih payah atau kepandaian kita.
Janganlah kita seperti Qarun, yang selalu menganggap semua yang dimilikinya itu karena kepandaiannya, bukan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena pola pikir semacam ini Qârun mendapatkan adzab dengan ditelan bumi? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا
Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak harta kumpulannya. .
Perwujudan bentuk yang lain dalam hal keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berkaitan dengan rezeki, yaitu kita senantiasa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika hendak menggunakan salah satu kenikmatan-Nya, misalnya ketika makan, bepakaian.
Kedua, Amal Shâlih
Yang dimaksud dengan amal shâlih, ialah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah hakikat ketakwaan yang menjadi syarat datangnya keberkahan.
Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Ahlul Kitab yang hidup pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُواْ التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيهِم مِّن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ رَّبِّهِمْ لأكَلُواْ مِن أَرْجُلِهِم
Dan sekiranya mereka benar-benar menjalankan Taurat, Injil dan (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. .
Para ulama tafsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan “mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki” ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melimpahkan kepada mereka rezeki yang sangat banyak dari langit dan dari bumi.
Dengan limpahan rizkinya itu sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan berbagai kebaikan, tanpa susah payah, letih, lesu, dan tanpa adanya tantangan atau berbagai hal yang mengganggu ketentraman hidupnya.
Penulis : Wawan Idris
Sumber: https://almanhaj.or.id




