ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Di antara saudara muslim kita ada yang melakukan banyak amalan pada bulan Muharram padahal tidak dicontohkan Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Karena tidak ada dalillnya, amalan tersebut menjadi bid’ah (tidak ada tuntunan). Melakukan kebid’ahan amalannya tertolak dan ancamannya sangat jelas, dosa besar, siksa neraka. Naudzubillah.

Mengutip tulisan Ustadz Syahrul Fatwa, berikut ini 11 amalan pada bulan Muharram yang masih dilakukan sebagian saudara muslim kita.

Yang lebih memprihatinkan mreka bahkan meyakini jika tak melakukan amalan ini akan mendatangkan bahaya. Ini benar-benar merupakan kesesatan yang sangat jauh.

Pertama, Keyakinan bahwa Muharram Bulan Keramat

Atas dasar keyakinan itu banyak saudara muslim kita yang enggan hajatan seperti menikahkan atau khitanan putra-putrinya. Mereka beralasan jika hajatan dilakukan pada bulan Muharram akan membawa sial.

Ketahuilah saudaraku, hal ini adalah keyakinan jahiliyyah yang telah dibatalkan oleh Islam. Kesialan tidak ada sangkut pautnya dengan bulan, baik Muharram, Shafar atau bulan-bulan lainnya.

Kedua, Doa Awal dan Akhir Tahun

Syaikh Bakr Bin Abdillah Abu Zaid berkata, “Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa’ atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa do’a, dzikir atau tukar menukar ucapan selamat.

Demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali”.

Ketiga, Peringatan Tahun Baru Hijriyyah

Tidak ragu lagi perkara ini termasuk bid’ah. Tidak ada keterangan dalam as-Sunnah anjuran mengadakan peringatan tahun baru hijriyyah. Perkara ini termasuk bid’ah yang jelek.

Keempat, Puasa Awal Tahun Baru Hijriyyah

Perkara ini termasuk bid’ah yang mungkar. Demikian pula puasa akhir tahun, termasuk bid’ah. Hanya dibuat-buat yang tidak berpijak pada dalil sama sekali!. Barangkali mereka berdalil dengan sebuah hadits yang berbunyi:

“Barangsiapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharram, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Allah manghapuskan dosanya selama lima puluh tahun!”

Hadits ini adalah hadits yang palsu menurut timbangan para ahli hadits. .

Kelima, Menghidupkan Malam Pertama Bulan Muharram

Syaikh Abu Syamah berkata, “Tidak ada keutamaan sama sekali pada malam pertama bulan Muharram. Aku sudah meneliti atsar-atsar yang shahih maupun yang lemah dalam masalah ini.

Bahkan dalam hadits-hadits yang palsu juga tidak disebutkan! Aku khawatir -aku berlindung kepada Allah- bahwa perkara ini hanya muncul dari seorang pendusta yang membuat-buat hadits! .

Keenam, Menghidupkan Malam Hari ‘Asyuro

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Termasuk bentuk bid’ah dzikir dan doa adalah menghidupkan malam hari ‘Asyuro dengan dzikir dan ibadah. Mengkhususkan do’a pada malam hari ini dengan nama do’a hari Asyuro, yang konon katanya barangsiapa yang membaca doa ini tidak akan mati tahun tersebut.

Atau membaca surat al-Qur’an yang disebutkan nama Musa pada shalat subuh hari ‘Asyuro. [Bida’ al-Qurro Bakr Abu Zaid hal. 9. Semua ini adalah perkara yang tidak dikehendaki oleh Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin!” .

Ketujuh, Shalat ‘Asyuro

Shalat ‘Asyuro adalah shalat yang dikerjakan antara waktu zhuhur dan ashar, empat rakaat, setiap rakaat membaca al-Fatihah sekali, kemudian membaca ayat kursi sepuluh kali, Qul HuwAllahu Ahad sepuluh kali, al-Falaq dan an-Nas lima kali.

Apabila selesai salam, istighfar tujuh puluh kali. Orang-orang yang menganjurkan shalat ini dasarnya hanyalah sebuah hadits palsu! .

As-Syuqoiry berkata: “Hadits shalat ‘Asyuro adalah hadits palsu. Para perowinya majhul, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuti dalam al-Aala’I al-Mashnu’ah. Tidak boleh meriwayatkan hadits ini, lebih-lebih sampai mengamalkannya!” .

Kedelapan, Do’a hari ‘Asyuro

Diantara contoh do’a ‘Asyuro adalah, “Barangsiapa yang mengucapkan HasbiyAllah wa Ni’mal Wakil an-Nashir sebanyak tujuh puluh kali pada hari ‘Asyuro maka Allah akan menjaganya dari kejelekan pada hari itu”.

Doa ini tidak ada asalnya dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, maupun para tabi’in. Tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah apalagi hadits yang shahih. Do’a ini hanya berasal dari ucapan sebagian manusia.

Bahkan sebagian syaikh sufi ada yang berlebihan bahwa barangsiapa yang membaca doa ini pada hari ‘Asyuro dia tidak akan mati pada tahun tersebut! (Bida’ wa Akhtho hal.230).

Ucapan ini jelas batil dan mungkar, karena Allah telah berfirman, “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui. .

Kesembilan, Memperingati Hari Kematian Husein

Pada bulan Muharram, kelompok Syi’ah setiap tahunnya mengadakan upacara kesedihan dan ratapan dengan berdemontrasi ke jalan-jalan dan lapangan, memakai pakaian serba hitam untuk mengenang gugurnya Husain.

Mereka juga memukuli pipi mereka sendiri, dada, dan punggung mereka, menyobek saku, menangis berteriak histeris dengan menyebut: “Ya Husain. Ya Husain!”

Lebih-lebih pada tanggal 10 Muharram, mereka lakukan lebih dari itu, mereka memukuli diri sendiri dengan cemeti dan pedang sehingga berlumuran darah. Anehnya, mereka menganggap semua itu merupakan amalan ibadah dan syi’ar Islam. Hanya kepada Allah kita mengadu semua ini.

“Adapun menjadikan hari asyuro sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rofidhah karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalama kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik.

Allah dan rasul-Nya saja tidak pernah memerintahkan agar hari mushibah dan kematian para Nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka?” ujar al-Hafizh Ibnu Rojab.

Kesepuluh, Peringatan Hari Suka Cita

Yang dimaksud hari suka cita adalah hari menampakkan kegembiraan, menghidangkan makanan lebih dari biasanya dan memakai pakaian bagus. Acara ini dilakukan untuk menyaingi dan mengganti hari kesedihan atas peristiwa terbunuhnya Husein.

Namun demikian, acara semacam ini tidak dibenarkan karena termasuk bid’ah. Pada prinsipnya , bid’ah tidak boleh dilawan dengan bid’ah yang baru. Dan tidak ada satu dalilpun yang membolehkan acara semacam ini.

Kesebelas, Berbagai Ritual dan Adat Istiadat di Tanah Air

Di tanah air, bila tiba hari ‘Asyuro. Kita akan melihat berbagai adat dan ritual dalam rangka menyambut hari istimewa ini. Secara syar’i, adat dan ritual ini tidak lepas dari kesyirikan!

Di antara adat ritual yang sering dilakukan adalah Kirab 1 Syuro. Acara ini sarat dengan kesyirikan, yaitu mulai dari keyakinan terhadap pusaka keraton, kerbau yang punya kekuatan ghaib, dan tirakatan dengan doa dan dzikir lainnya.

Juga meminta berkah dari benda-benda yang dianggap sakti dan keramat. Bahkan yang lebih mengenaskan sampai kotoran sapi pun tidak luput untuk dijadikan alat pencari berkah.

Penulis: Wawan Idris