MHNEWS.id.- Di media sosial berseliweran ajakan untuk menumbangkan dominasi partai petahana, PDI-P dengan menggunakan isu agama dan komunis dalam bentuk narasi maupun visualisasi.
Isu agama maupun komunis itu kadang sengaja diproduksi sangat provokatif untuk menanamkan perasaan benci dengan tujuan agar dalam pemilihan umum 2024 tidak mencoblos PDI-P.
Efektifkah usaha mereka? Kenyataannya sama sekali tidak. PDI-P tetap berdiri kokoh menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi. Sebaliknya partai-partai yang kadernya diduga kuat menjadi produsen narasi dan visualisasi hoax malah makin terpuruk.
Hal ini terungkap dari survei Lembaga Indostrategic tentang elektabilitas partai politik menjelang Pemilu 2024. Hasilnya, elektabilitas PDIP masih bertengger di posisi pertama, disusul Gerindra, dan Partai Golkar.
Rilis survei Indostrategic digelar pada Jumat (14/7/2023). Survei dilakukan pada 9-20 Juni 2023. Teknik pengambil sampel survei ini yakni multi-stage random sampling.
Terdapat 1.400 responden dari 38 provinsi dari seluruh Indonesia yang mempunyai hak memilih atau sudah menikah. Teknik pengambilan data dalam survei ini adalah wawancara tatap muka, margin of error 2,62%.
Hasilnya:
PDIP 21,7 persen
Gerindra 15,2 persen
Golkar 10,8 persen
Demokrat 10,2 persen
PKB 9,8 persen
NasDem 8,4 persen
PKS 7,7 persen
PAN 2,8 persen
PDIP masih mendominasi di urutan teratas dengan 21,7 persen, diikuti Gerindra 15,2 persen, sementara Golkar 10,8 persen, Demokrat 10,2 persen, dan PKB 9,8 persen yang bersaing ketat.
“PDIP masih teratas, diikuti Gerindra posisi kedua,” ujar Direktur Eksekutif Indostrategic, Ahmad Khoirul Umam.
Sedangkan dua partai parlemen hasilnya di bawah ambang batas parlemen 4 persen. Partai lainnya yang nonparlemen belum tembus ambang batas 4%.
“PAN dan PPP berdasarkan basis data yang ada di bawah parliament threshold (ambang batas parlemen),” imbuh Umam.
Penulis: Wawan Idris




