mhnews.id.- Berharap dapat keluar dari penderitaan dan kemiskinan karena ketidakberdayaan ekonomi orang tuanya, tujuh orang anak malah mengalami kehidupan yang jauh lebih tragis dan pahit.
Ketujuh anak, yang sebagian masih di bawah umur itu karena kemiskinan, oleh orang tuanya dititipkan di panti asuhan yang dikelola lembaga keagamaan. Namun sungguh mengenaskan, ketujuh anak itu oleh pengasuhnya malah dijadikan budak seks.
Tidak sampai di situ penderitaan anak-anak ini, mereka juga dieksploitasi dengan dipekerjakan di tambang emas tradisional, dijadikan kuli bangunan, sampai dengan dijadikan penjaga bagan di laut.
“Anak-anak perempuan selain dijadikan budak seks oleh pengasuhnya, juga dijadikan sebagai penjaga bagan di laut. Sedangkan anak laki-laki dijadikan pekerja tambang dan kuli bangunan,” beber Kuasa Hukum korban dari LBH Manado, Citra Tangkudung kepada detikcom, Jumat (10/9/2022).
Dilansir detikcom, tujuh anak panti asuhan di Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut) tidak hanya diduga menjadi budak seks pengasuhnya inisial FP (46). Sejumlah anak bahkan diduga dieksploitasi bekerja paksa di tambang emas hingga dijadikan buruh bangunan oleh pengasuhnya.
“Menurut pengakuan anak-anak bahwa mereka disuruh kerja dari jam 4 sore sampai jam setengah 7 pagi itu yang sebagian di bagan, yang sebagian itu di tambang emas,” beber Kuasa hukum korban dari LBH Manado, Citra Tangkudung kepada detikcom, Jumat (10/9/2022).
Berdasarkan keterangan yang diterima, bahkan ada korban yang baru duduk di kelas 4 SD diminta menjaga bagan atau keramba ikan. Dari laki-laki sampai perempuan semua diminta bekerja.
“Kalau eksploitasi untuk kerja di tambak atau keramba itu laki-laki dan perempuan. Ada juga yang eksploitasi di dalam tambang emas, di situ mereka disuruh masuk ke dalam lobang tambang,” urai dia.
Anak panti juga diminta ikut bekerja dalam pembangunan yang sedang dikerjakan di panti asuhan tersebut. Mereka dipekerjakan layaknya buruh bangunan. “Jadi sepertinya anak-anak disuruh jadi kenek bangunan, dia disuruh campur semen, pasir kerikil, itu anak-anak perempuan, anak-anak laki-laki yang SD, SMP,” kata Citra.
Para orang tua korban sebenarnya tahu kalau anak-anaknya dieksploitasi tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka juga bergantung secara finansial kepada terduga pelaku ini, dan juga adalah anggota jemaat.
Pihaknya menuturkan, kasus ini terus dikawal ke kepolisian agar dugaan eksploitasi anak ini juga segera diusut tuntas oleh pelaku. Namun laporan yang sementara diproses baru terkait dugaan kekerasan seksual yang diduga dilakukan oknum pendeta inisial FP.
Penulis : Wawan Idris
Sumber : detikcom




