Oleh Entang Sastraatmadja
Penulis adalah Ketya Harian DPD HKTI Jawa Barat
PERIBAHASA Sunda yang dapat dijadikan tuntunan kehidupan sungguh sangat banyak. Salah satunya adalah “ulah adèan ku kuda beureum“. Dalam makna lain, “tong reueus ku barang batur, boh barang kolot, barang dulur, atawa barang pihapean ti batur“.
Arti atau makna lugas peribahasa tersebut adalah jangan membangga-banggakan barang orang lain; baik barang orangtua, saudara, maupun titipan dari orang lain. Bersikap membangga-banggakan itu dalam agama pun dilarang meskipun milik sendiri.
Bersikap ‘ulah adean ku kuda beureum’ memang sama sekali tidak ada gunanya. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bersikap rendah hati, walau sesungguhnya ia bisa sangat tinggi hati (karena kekayaannya, kekuasaannya, kepandaiannya).
Kasus anak seorang pejabat Kantor Pajak yang belakangan ini menjadi sorotan publik adalah contoh nyata dari peribahasa ‘ulah adean ku kuda beureum’. Akibat ulahnya itu, ia dan keluarganya ‘celaka’ dan tercela.
Tersibaknya harta kekayaan seorang Kepala Bagian Umum di Kantor Pajak Jakarta Selatan yang jumlahnya mendekati kekayaan Menteri Keuangan, dalam beberapa hari belakangan ini sempat mengundang perhatian masyarakat. Banyak orang yang berkomentar: kok bisa?
Yang cukup memilukan, keadaan ini jadi terbuka ke tengah-tengah masyarakat setelah ketahuan anaknya menganiaya seorang remaja sampai koma. Hebatnya lagi sang anak ini telah menunjukkan sifat jagoannya selaku anak muda yang sudah jauh menyimpang dari nilai budaya bangsa kita.
Terasa tidak pantas dipertontonkan bentuk penganiayaan dengan menendang tubuh dan kepala anak bangsa yang tampak sudah tidak berdaya. Ada setan apa sebetulnya yang merasuk dalam sanubari anaknya Aparat Sipil Negara ini. Ini jelas perilaku yang harus kita kutuk kehadirannya.
Hebatnya, sang anak tadi begitu bangga mengendari motor gede, Harley Davidson dan berputar-putar dengan gayanya yang arogan. Belum lagi dalam berbagai unggahan di media sosial, anak ini pun merasa keren berfoto di depan mobil Robicon.
Anak ini lupa, disekitar kehidupannya masih banyak warga bangsa yang kondisi kehidupannya memprihatinkan. Sikapnya yang jumawa dengan kekayaan orang tuanya itu sejatinya telah mengiris hati masyarakat kebanyakan yang hidup dalam ketidakpastian.
Anak ini, kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh aparat kepolisian. Dirinya pun dipecat dari status mahasiswa di tempat kuliahnya. Yang lebih mengenaskan, ayah sang anak pun terpaksa harus meletakan jabatan, bahkan siap-siap untuk dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi. Ini betul-betul wujud kesialan yang luar biasa.
Penampilan sang anak yang doyan pamer kekayaan orang tua, bukanlah perilaku yang sesuai dengan budaya bangsa. Memang tidak dilarang jika ada orang yang ingin mempertontonkan gaya hidup yang sofistikasi.
Tapi sebagai bangsa yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa, sebaiknya hal-hal yang tidak senafas dengan butir-butir yang tercantum dalam dasar negara ini kita hindari.
Pamer kemewahan di tengah kehidupan bangsa yang lagi prihatin, bukanlah perilaku yang baik. Utang luar negeri kita masih cukup besar. Tingkat kemiskinan masyarakat juga masih tinggi. Bahkan derajat kesehatan rakyat, masih jauh dari ideal.
Apalagi jika ketimpangan sosial masih menjadi soal yang perlu diselesaikan. Jurang yang kian menganga antara “the have” dengan “the have not” menjadi masalah lain yang patut ditangani.
Mempertontonkan kekayaan pribadi yang cukup mewah, jelas membuat banyak orang bertanda-tanya. Apalagi kalau orang tersebut berstatus sebagai pegawai negara. Bangsa ini sangat paham berapa sebetulnya penghasilan pegawai negeri.
Jadi, betapa terpesonanya jika ada diantara mereka yang memiliki harta kekayaan hingga di atas 50 milyar rupiah.
Bagi orang kaya, sepatutnya mereka mampu menahan diri. Tenggang rasa menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pamer kemewahan cenderung membuat orang-orang yang tercatat kedalam golongan korban pembangunan jadi melongo.
Kok bisa, di negara yang berideologi Pancasila masih ada orang yang senang berfoya-foya di atas penderitaan orang lain.
Ya, apa mau dikata. Inilah Tanah Merdeka. Negara yang penuh dengan kontroversi. Yang kaya dan yang miskin hidup saling berdampingan. Yang bergelar doktor dengan yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, bersama-sama hidup dalam sebuah Rukun Warga.
Bahkan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan mereka dapat saling memandang dan bertegur sapa. Sikap untuk bertenggang-rasa dan berpola hidup sederhana sendiri telah sering dikumandangkan oleh Pemerintah.
Tapi, betapa kecewanya kita manakala melihat mobil dinas yang digunakan Gubernur, Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Asisten Sekda, Staf Akhli, Pimpinan DPRD hingga para Kepala Dinas adalah mobil tergolong mewah sekelas Alphard, Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero dan lain sejenisnya diatas 2500 CC.
Jadi, di mana letak hidup sederhananya, kalau para Aparatur Sipil Negaranya sendiri memberi teladan untuk tidak hidup mewah. Apakah tidak jauh lebih pantas, jika mereka pun menggubakan mobil dinas yang merakyat.
Apa salahnya bila menjadikan mobil Avanza atau Xenia sebagai kendaraan dinasnya? Namanya juga hidup sederhana. Tidak perlu bermewah-mewahan.
Disodorkan pada gambaran kehidupan yang demikian, janganlah kita melahirkan kebijakan yang membuat pertanyaan masyarakat. Katanya menuntut pola hidup sederhana? Kenapa atuh para pejabat Pemerintahannya menggunakan mobil dinas yang CC-nya di atas 2500 CC? Inilah yang kerap kali membuat banyak pihak terpaksa menggeleng-gelengkan kepala.
Menghindari gaya hidup yang doyan kemewahan, sepantasnya diawali dari kiprah para penyelenggara negara itu sendiri, baik di tingkat Pusat atau Daerah. Keteladanan itu menjadi penting.
Terlebih-lebih dalam budaya yang bersifat patrimonial. Itu sebabnya, kalau kita sudah siap dan bertekad untuk menerapkan pola hidup sederhana dan menendang jauh-jauh gaya hidup mewah, maka salah satu kata kuncinya ada pada sikap dan tindakan keteladanan itu sendiri.
Pamer kemewahan yang dipertontonkan anak seorang pejabat di Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, hanyalah sebuah kasus yang muncul ke tengah-tengah publik karena terseret oleh kelakuan anaknya yang cukup brutal dan melahirkan antipati dari masyarakat.
Di luar itu, tentu masih banyak warga bangsa yang doyan menampilkan gaya hidup mewah. Akankah kasus seperti ini bakal membuat jera bagi orang lain? Yah, kita lihat saja kelanjutannya. Yang pasti seperti peribahasa Sunda, ‘ulah adean ku kuda beureum’ karena sungguh bisa tercela. ***



