MHNEWS.ID.- Tanpa merasa malu apalagi rendah dan hina, Dedi Mulyadi membuka lembaran kehidupannya yang pahit di depan para pejabat tinggi serta publik.

Gubernur Jawa Barat yang populer dengan panggilan Bapa Aing ini memang blak-blakan mengungkapkan rahasia pribadi dan keluarganya pada masa lalu.

“Kehidupan saya pada masa kecil hingga remaja serba sederhana. Makan kerap cukup dengan garam yang dibakar,” ungkapnya dalam berbagai kesempatan.

Dikatakan, dirinya merupakan anak bungsi dari sembilan bersaudara. Ayahnya pensiunan tentara dan meninggal dunia sejak Dedi masih kecil. Ibunya hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa.

Namun karena kepiawaiannya mengatur uang pensiun ayahnya yang sangat kecil ibunya berhasil menyekolahkan kesembilan anaknya menjadi sarjana.

Kisah keprihatinannya kembali diungkap saat berbicara di hadapan para pejabat tinggi negara, seperti Kepala KSP Kodari, Menteri Perumahan, Maruara Sirait.

Pada acara Peluncuran Program Penguatan Ekosistem Perumahan “Imah Merendah, Hirup Tumaninah” di Gedung Sabuga ITB, Bandung, Kamis (18/9/2025) itu Dedi bicara soal kepahitan hidupnya pada masa kecil hingga dewasa.

Gubernur Dedi menekankan, kemampuan mengurus keuangan harus dimulai dari ibu. Jika seorang ibu pandai mengelola uang, seberapa pun pendapatannya maka akan cukup.

Dedi mengaku pandangannya itu lahir dari pengalaman pribadi sebagai anak desa dari keluarga sederhana.

Meski ibunya memiliki sembilan anak, mereka tetap bisa bersekolah hingga perguruan tinggi karena keluarganya pandai mengatur pengeluaran.

“Karena ibu-ibu kita dulu berhasil mengelola rumah tangga dengan sedikit pengeluaran. Kalau sekarang, tidak punya kuota, tidak tenang. Tidak bisa jalan-jalan, orang tidak tenang. Ini problem,” katanya.

Dedi menilai pola konsumsi kelas menengah makin dipengaruhi oleh keinginan meniru gaya hidup kalangan atas. Media sosial pun memperkuat dorongan tersebut.

Karena itu, ia mengingatkan agar pejabat publik berhati-hati dalam memperlihatkan kehidupan pribadi di media sosial, meski menggunakan dana sendiri.

”Untuk ini, makanya tidak boleh para pejabat memperlihatkan, mem-posting sesuatu yang tidak terjangkau oleh rakyatnya,” pesannya.

“Misalnya cerita, hari ini saya lagi belanja di Singapura. Walaupun pejabat beli pakai uang sendiri, itu menimbulkan obsesi,” pungkas Dedi.

Penulis: Wawan Idris