ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Salah satu tanda keimanan seorang muslim adalah saat menyambut Ramadhan merasa bergembira. Jika tak ada rasa gembira, maka takutlah.
Kegembiraan seorang muslim saat menyambut Ramadhan harus melebihi kegembiraan ketika akan kedatangan tamu agung yang dinanti-nantikan. Muslim yang sangat gembira akan datangnya Ramadhan akan mempersiapkan segalanya dengan sepenuh hati dan jiwa.
Karenanya, hendaklah seorang muslim khawatir bahkan takut akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira datangnya Ramadhan. MisaInya ia merasa biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, bahkan tidak sedikit yang malah mengeluhkan karena dianggap beban.
Jika ini ada dalam perasaan seorang muslim, bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah Azza wa Jalla dan seorang muslim harus bergembira.
Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Q.S. Yunus: 58).
Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:
“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.” (Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)
Lantas kenapa seorang muslim harus bergembira menyambut Ramadhan? Jawabannya karena pada Ramadhan banyak kemuliaan, berkah, dan keutamaan. Pada Ramadhan setiap ibadah pahalanya dilipatgandakan dan doa-doa pun diijabah Allah Azza wa Jalla.
Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (H.R. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).
Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan. Seperti dijelaskan Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:
Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung. (Ahaditsus Shiyam hal. 13)
Demikian juga Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan: Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148).
Ada pun hadits: “Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka,” menurut ulama salaf dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu). (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin). Semoga bermanfaat.
Penulis: Wawan Idris




