mhnews.id.- Sudah Sembilan tahun Siti Faridah (26) TKW asal Desa Cempeh, Kecamatan lelea, Indramayu hilang kontak dengan keluarganya. Tak heran jika kerinduan, kebingungan, kesedihan, dan ketakutan orang tuanya pun begitu besar.
Warpen (60), ibu kandung Siti Faridah menceritakan awal anaknya ke Singapura untuk menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Tahun 2013 Siti ditawari bekerja oleh salah seorang sponsor. Ketika itu, Siti baru berumur masih 16 tahun, sehingga belum boleh berangkat bekerja ke luar negeri.
Warpen pun tidak mengijinkan anaknya itu berangkat. Namun, anak keempat dari enam bersaudara itu memaksa pergi karena ingin meringankan beban ekonomi keluarganya. Ayahnya, Warso (60), hanya bekerja sebagai tukang becak.
Warpen mengaku tidak paham prosedur keberangkatan menjadi PMI ke luar negeri. Apalagi, dirinya buta aksara, tak bisa menulis dan membaca. Oknum sponsorlah yang mengurus seluruh keperluan pemberangkatan Siti Faridah ke luar negeri.
‘’Saya sudah melarang agar anak jangan pergi ke luar negeri. Tapi Siti Faridah merasa kasihan karena saya punya banyak utang. Bapaknya hanya tukang becak. Pulanglah nak, ibu kangen,’’ ungkap Warpen dengan ekspresi penuh kesedihannya.
Pada Mei 2013, Warpen menderita sakit cukup parah sehingga dirawat di rumah sakit. Baik suami maupun anak-anaknya yang lain, menungguinya di rumah sakit. Ternyata, hal itu dijadikan kesempatan oleh oknum sponsor untuk memberangkatkan Siti Faridah ke Singapura.
‘’Anak saya dibawa terbang tanpa sepengetahuan saya maupun keluarga yang lain. Tanpa pamit,’’ tukas Warpen dengan nada gusar.
Penulis : Iir Sairoh
Editor : Wawan Idris




