ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan seseorang hasad manakala ia iri atas nikmat orang lain dan mengharapan nikmat itu hilang dari orang lain itu.
Berikut ini sembilan bahaya hasad yang harus diwaspadai, dipahami, sekaligus dihindari sebisa mungkin agar selamat dunia dan akhirat, agar amal sholeh tidak terbakar sebagaimana api membakar kayu kering.
1.Hati orang yang hasad penuh kesengsaraan
Setiap kali menyaksikan nikmat yang didapatkan orang lain maka hatinya sakit, dadanya terasa sesak, marah, gelisah, makan pun tak enak, dan tidur pun tak nyenyak.
2 Tidak menyukai apa yang Allah Ta’ala takdirkan
Merasa tidak suka dengan nikmat yang peroleh orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan pemberian Allah Ta’ala kepada orang tersebut sekaligus menentang takdir Allah Ta’ala kepada orang tersebut. Bukankah segala nikmat itu adalah dari Allah Ta’ala semata?
3 Hasad bisa melahap kebaikan
Hasad itu akan melahap kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering. Hasad selalu disertai dengan menjelek-jelekan, mengajak orang lain membenci, dan merendahkan. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis kebaikan atau amal sholeh.
4 Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada
Orang yang hasad merasa dirinya tidak diberi nikmat oleh Alloh Ta’ala dan selalu melihat orang lainlah yang lebih banyak diberi nikmat. Dengan kata lain dia tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan.
5 Hasad karakter Yahudi
Hasad menyerupai karakter orang Yahudi. Karenanya siapa yang memiliki karakter Yahudi maka dia menjadi bagian dari mereka. Rasululloh bersabda: “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud, shahih)
6 Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna
Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda, “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk diri kalian sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah Ta’alla yang ada pada saudara sesama muslim. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna.
7 Hasad adalah sikap percuma
Seberapa pun besar kadar hasad seseorang, tidak mungkin dirinya dapat menghilangkan nikmat yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada orang lain itu. Jika demikian lalu mengapa masih ada hasad bahkan memelihara dan menumbuhkannya di dalam hati?
8 Hasad akhlak tercela
Orang hasad cenderung suka mengawasi nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada orang-orang di sekelilingnya. Orang hasad juga selalu berusaha menjatuhkan orang lain dengan cara merendahkan martabatnya dan meremehkan kebaikan-kebaikannya.
9 Hasad bisa menyebabkan seseorang meninggalkan berdoa meminta karunia Allah
Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia kepada Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. an Nisa’: 32).
Sifat hasad umumnya akan disertai kezaliman. Karenanya saat hasad kepada orang lain maka ia pun akan berbuat zalim kepada orang tersebut. Padahal orang yang dihasadinya itu punya hak di akhirat untuk mengambil kebaikan orang yang hasad kepadanya.
Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang dihasadinya akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang hasad. Setelah itu orang yang hasad tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka. Inilah contoh nyata orang bangkrut yang sesungguhnya. Nauzubillah.
Penulis : Wawan Idris
Sumber : Qur’an dan Sunnah




