mhnews.id.- Tahun 2023 dunia akan memasuki gejolak resesi yang ektrim. Pelemahan ekonomi akan semakin nyata, karenanya masyarakat harus waspada, terutama dalam memilih investasi.
“Kenaikan suku bunga oleh bank sentral terutama di negara-negara maju secara cukup cepat dan ekstrim itu pasti akan memukul pada pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut,” ujar Sri Mulyani.
Kenaikan suku bunga ini pula yang menjadi salah satu pendorong resesi pada tahun 2023 mendatang. Bank Indonesia (BI) pun memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen
Melansir Kompas.com, apakah dalam kondisi seperti itu masyarakat tidak bisa berinvestasi? Tentu saja bisa. Asalkan memilih instrumen investasi safe haven atau aset aman. Dengan berinvestasi di safe haven, maka risiko yang dihadapi investor juga lebih kecil.
Menaruh dana di investasi safe haven juga memungkinkan investor berinvestasi di aset lainnya. Karena tujuan investasi di aset aman adalah untuk diversifikasi dan meminimalisir resiko kehilangan (loss) akibat ekonomi yang sedang melemah.
Apa saja yang termasuk Safe Haven? Mengutip dari akun instagram resmi @investingmom.id, berikut adalah jenis-jenis investsi safe haven:
1. Emas
Saat puncak pandemi kemarin, harga emas sempat melambung sangat tinggi. Dari yang tadinya Rp700.000 per gram untuk emas batangan, sempat menjadi Rp1.000.000. Dari situ terlihat nilai emas justru melambung saat kondisi ekonomi lesu akibat pandemi.
2. Surat utang pemerintah jangka pendek
Untuk investor ritel atau investor perorangan, bisa membeli Surat Utang Negara Ritel seperti Sukuk, ORI, SBR, dan Sukuk Tabungan (ST).
3. Saham-saham defensif
Investor bisa memilih saham-saham dari emiten yang erat kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari. Seperti perbankan, consumer goods, utility (air, listrik), kesehatan (farmasi dan rumah sakit).
Karena dalam kondisi apapun, sektor tersebut merupakan kebutuhan dasar dan akan tetap dikonsumsi oleh masyarakat.
4. Uang Cash
Uang cash (disimpan di tabungan) baik dalam bentuk mata uang sendiri maupun asing.
Penulis : Wawan Idris
Sumber : Kompas.com




