MHNEWS.ID.- Lansia sering mengalami penurunan fungsi pengecap, sehingga merasa makanan yang sehat terasa hambar.
Hal ini sering memicu konsumsi garam atau gula berlebih, padahal hal tersebut bisa memicu hipertensi dan diabetes.
“Kadang-kadang, beliau suka ngambek, karena kan lidah beliau sudah mulai atrofi. Jadi, yang kita kecap sudah asin nih. Ternyata, beliau bilang, ‘nggak, ini hambar, nggak rasa apa-apa’. Itu juga pelan-pelan harus dimotivasi,” ujar dr. Rai.
Sesuaikan dengan kondisi kesehatan
Beberapa lansia hidup dengan kondisi kronis seperti hipertensi, penyakit ginjal, atau diabetes. Karena itu, pengaturan diet harus disesuaikan dengan kebutuhan medis masing-masing.
“Makan yang tinggi gula, jangan. Kemudian, tinggi garam, jangan. Itu bagian yang penting juga harus disesuaikan,” tegasnya.
Peran keluarga sangat penting Pola makan sehat untuk lansia tidak bisa hanya dibebankan pada lansia itu sendiri.
Perlu dukungan penuh dari keluarga dalam memilihkan, menyiapkan, dan mendampingi proses makan yang sehat.
“Pola makan ini bukan cuma lansianya saja yang perhatikan, tapi orang sekitarnya juga mesti diperhatikan juga,” kata dr. Rai.
Masa lansia bisa tetap dijalani dengan aktif dan bahagia jika didukung pola makan yang sehat.
Dengan memperhatikan asupan cairan, serat, lemak sehat, serta membatasi gula dan garam, lansia dapat mempertahankan kualitas hidupnya.
Dukungan dari keluarga menjadi kunci dalam membangun rutinitas makan yang tepat dan penuh kasih.
Penulis: Nia Herlina [Pengurus PKK Kabupaten Indramayu]


