MHNEWS.ID.- Alih fungsi lahan di kaki Gunung Burangrang menjadi penyebab utama terjadinya longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Hal itu dikemukakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat meninjau lokasi bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, KBB, Sabtu (24/1/2026).
“Bisa dilihat, ini daerah kemiringan yang seharusnya ini daerah hutan rimbun berubah menjadi perkebunan sayuran dan pakai plastik,” ungkap Dedi saat ditemui di lokasi bencana.
Menurutnya, lahan di kaki Gunung Burangrang ini seharusnya ditanami oleh vegetasi yang lebat dengan akar yang kuat.
Namun, fakta di lokasi lahan tersebut beralih fungsi menjadi lahan perkebunan sayur dengan pola pertanian menggunakan plastik sehingga daerah resapan air tidak berfungsi.
“Kalau lihat ini saya sudah bisa menebak (apa penyebabnya). Tanahnya subur jadi mudah lepas,” ujarnya sebagaimana dikutip Kompas.com.
Dari peristiwa ini, Dedi menegaskan komitmen Pemprov Jabar untuk menata ulang daerah-daerah yang rawan bencana dengan mengembalikan lahan kritis menjadi pada fungsinya.
“Kami ingin daerah-daerah yang rawan ini direlokasi saja. Fungsi-fungsi alam dikembalikan,” papar Dedi.
Dedi mengakui, banyaknya bencana alam yang terjadi diakibatkan pola tata ruang yang salah sejak awal. Karena itu, lahan-lahan di kemiringan beralih fungsi menjadi lahan kritis.
“Kita sudah salah dari awalnya. Daerah-daerah seperti ini tidak layak menjadi kebun sayur. Layaknya jadi hutan bambu,” tuturnya.
Diketahui, bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, KBB menelan sedikitnya 30 unit rumah dan area perkebunan sayur.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat ada 113 jiwa dari 34 kepala keluarga menjadi korban.
Penulis: Wawan Idris


