MHNEWS.id.- Mayoritas petani di Kecamatan Kedokan Bunder, Indramayu kini telah beralih ke pertanian dengan sistem atau pola pengelolaan sawah padi organik yang sangat menguntungkan dan menyehatkan.

Proses peralihan yang sebenarnya pada awalnya ‘sangat tidak mungkin’ itu pun hanya memerlukan waktu kurang lebih tiga tahun. Dan peralihan ini bisa terealisasi berkat kegigihan, keseriusan, dan ‘kegilaan’ “Profesor Bakteri’ Waklan.

Secara spesifik, terjadinya peralihan sistem pengelolaan sawah padi organik ini adalah sebagai wujud nyata dari dampak wabah bakteri yang diciptakan ‘Profesor Waklan’ atau lebih dikenal dengan julukan ‘Profesor Bakteri’.

Dampak wabah bakteri ‘Profesor Waklan’ memang sangat ganas sehingga dengan mudah meluas. Betapa tidak, hamparan lahan sawah padi organik dari semula hanya 3 hektar pada tahun 2021, kini pada tahun 2023 sudah mencapai 22 hektar.

Woooowww ini luar biasa! Para petani di Kecamatan Kedokan Bunder benar-benar sudah terpapar virus bakteri ‘Profesor Waklan’ dan mereka kecanduan menanam padi organik karena lebih sehat dan menguntungkan.

Camat Kedokan Bunder, Atang Suwandi, S.S.T.P., M.Si. menjelaskan, produksi padi organik di wilayahnya ini didominasi oleh Kelompok Sri Trusmi Satu, Desa Kedokanbunder Wetan.

Di kelompok tani yang diketuai ‘Profesor Bakteri’ Waklan ini terus berkomitmen untuk mengembangkan padi organik dengan pengembang agens pengendali hayati (APH).

Atang menambahkan, pada tahun 2021 lalu luas lokasi areal sawah yang menggunakan agens hayati atau perlakuan organik 100 persen hanya seluas 3 hektar dan menggunakan semi organik seluas 19 hektar.

Namun pada tahun 2023 ini jumlah petani yang menggunakan APH semakin bertambah. Seiring itu bertambah pula luas lahan yang menggunakan APH 100 persen menjadi 22 hektar pada lokasi kelompok, dan 62 hektar (perlakuan organik dan semi organik) terbagi di beberapa lokasi di luar hamparan PPAH Sri Trusmi Satu.

Selain luas lahan yang semakin bertambah, lanjut Atang, peningkatan produksi pada juga mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2021 musim tanam I jumlah produksi padi mencapai 6,84 ton per hektar dan pada musim tanam II meningkat menjadi 7,22 ton per hektar.

Pada tahun 2022 lalu, musim tanam I kembali mengalami peningkatan sebanyak 7,26 ton per hektar dan musim tanam II menjadi 7,84 ton per hektar. Peningkatan jumlah ini tentu saja berbanding lurus dengan pendapatan petani setiap hektarnya.

“Alhamdulillah jumlahnya arealnya setiap tahun terus meluas, begitupun jumlah produksi dan pendapatan para petani juga terus meningkat,” kata Atang kepada MHNEWS.id ketika monitor areal pesawahan, Senin (20/3/2023).

Meningkatkanya jumlah produksi padi dan sangat ramah lingkungan karena perlakuan organik ini tentu sangat mendukung keinginan Presiden RI, Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produksi padi dari Kabupaten Indramayu.

Jika produksi padi melimpah maka harapan untuk mewujudkan Visi Indramayu Bermartabat di bawah kepemimpinan Bupati Nina Agustina melalui ketahanan pangan ini bisa tercapai.

“Alhamdulillah dengan pola APH ini produksi padi organik meningkat dan semakin diminati masyarakat. Meningkatknya produksi padi dapat mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Indramayu dan menguatkan daerah kita sebagai lumbung padi nasional,” tegas Atang.

Atas pencapaian tersebut, Kelompok Tani Sri Trusmi Satu menjadi Terbaik II Nasional kategori Kelompok Tani Pemberdayaan Petani Dalam Pemasyarakatan Pengendalian Hama Terpadu (P4) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian RI pada bulan Februari 2023 lalu.

Penulis  : Daniswara
Editor    : Wawan Idris