MHNEWS.id.- Migrant Care Indramayu menerjunkan enumerator atau petugas survei dari anggota komunitas Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi).
Petugas survei ini untuk mendata dua hal terkait purna pekerja migran Indonesia (PMI), yaitu tentang akses pelindungan sosial (PS) dan potensi ekonomi (PE) purna PMI.
Koordinator Migrant Care Indramayu, Muhammad Santosa mengatakan terdapat 15 orang enumerator untuk mensurvei PS yang akan menyasar kurang lebih 200 responden. Sementara untuk survei PE, ada lima orang yang akan menyasar kurang lebih 45 responden.
Survei PS dan PE lakukan di tiga desa, yaitu Desa Juntinyuat, Juntiweden dan Tinumpuk Kecamatan Juntinyuat.
Survei tersebut telah dimulai sejak dilaunching atau diluncurkan yang terpusat secara nasional di Wonosobo Jawa Tengah 9 Juli 2024 dan akan berakhir 31 Juli 2024.
“Maksud dan tujuan melakukan survei ini adalah sebagai data panel dan digunakan sebagai bahan advokasi Migrant Care ke pemerintah,” jelas Santos kepada MHNEWS.id, Minggu (21/7/2024).
Advokasi dimaksud, tambahnya, baik terkait dengan pemerintah desa, daerah maupun pusat. Sebagai contoh hasil survei PS beberapa waktu lalu, mengadvokasi purna PMI atau keluarganya disabilitas yang sebelumnya tidak mendapatkan bantuan pemerintah, akhirnya menerima bantuan.
Contoh lain hasil survei PE, diketahui banyak purna PMI pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) namun belum terfasilitasi, akhirnya dibentuk koperasi sebagai wadah mereka.
“Dengan survei ini, harapan kita purna pekerja migran ataupun keluarganya semakin terlindungi oleh pemerintah, baik desa, daerah dan pusat,” tegasnya.
Dikatakan, survei tersebut dilakukan Migrant Care secara nasional di 7 kabupaten dalam 5 provinsi. Salah satunya, Provinsi Jawa Barat dilakukan di Kabupaten Indramayu.
Survei PS maupun PE sudah dilakukan sejak 2022. Namun, PS dilakukan setiap dua tahun sekali, berbeda dengan PE yang dilakukan setiap tahun.
“Dengan adanya survei ini kita bisa menginventarisir masalah yang bisa dijadikan bahan advokasi kita. Untuk mengurai permasalahan tanpa didukung dengan data, sama saja bohong,” pungkasnya .
Penulis : Rohman
Editor : Wawan Idris




