MHNEWS.id.- Delapan organisasi mitra INKLUSI menggelar musyawarah perempuan nasional secara hybrid yaitu mengkombinasikan antara pertemuan daring dan luring pada Selasa-Rabu (17-18/4/2023).

Musyawarah ini dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Ke delapan organisasi mitra INKLUSI dimaksud, yaitu Aisyiyah, BaKTI, KAPAL Perempuan, Kemitraan, Migrant Care, PEKKA, PKBI, dan SIGAB.

Kegiatan yang terpusat di Jakarta itu diikuti secara nasional melalui daring, salah satunya oleh Migrant Care Indramayu dengan peserta komunitas binaannya yaitu Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi).

Meskipun kegiatan secara daring, peserta dari tiga Desbumi Desa Tinumpuk, Juntinyuat dan Juntiweden, cukup antusias mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di Balai Desa Juntiweden itu.

Turut hadir pula, pemerintah desa dari tiga desa tersebut serta perwakilan dari Disnaker, Disduk-P3A dan Dinsos Kabupaten Indramayu.

Koordinator Migrant Care Indramayu, Muhammad Santosa, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menyampaikan usulan-usulan permasalahan perempuan untuk dijadikan bahan bagi pemerintah dalam menyusun rencana pembangunan jangka menengah dan panjang nasional.

Usulan-usulan tersebut untuk mendorong pemerintah agar membuat kebijakan-kebijakan yang pro terhadap kondisi yang ada di tataran masyarakat terutama kalangan perempuan, kaum marjinal dan disabilitas.

“Untuk memberikan masukan sebagai bahan RPJMN 2025-2029 dan RPJPN 2025-2045,” katanya. Ia berharap usulan-usulan yang disampaikan melalui kegiatan tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat.

“Harapannya usulan-usulan yang kita sampaikan bisa diakomodir oleh pemerintah pusat dan bisa diturunkan atau bisa diimplementasikan ke daerah-daerah atau ke bawahnya,” ucapnya.

Dikatakan, dari Migrant Care Indramayu sendiri menyampaikan usulan-usulan yang disampaikan oleh anggota Desbumi Desa Tinumpuk, Lely Yuhana. Salah satu poin yang disampaikan perempuan purna PMI itu yakni permasalahan PMI dan terkait disabilitas.

“Poin-poin yang disampaikan merupakan temuan-temuan kita selama ini, selama kita kerja-kerja di lapangan, dengan temen-temen pendamping, komunitas,” jelasnya.

Penulis  : Rohman
Editor    : Wawan Idris