mhnews.id.- Pro dan kontra berbagai kalangan, seperti politisi, pegiat demokrasi, LSM, pengamat politik, sampai akademisi mengenai jabatan presiden tiga periode terbangun kembali setelah sekian lama tertidur dan senyap.
Hal ini dipicu gemuruh atau bergaungnya kembali dukungan dari (kelompok) masyarakat kepada Joko Widodo untuk menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga kalinya. Padahal pasal 7 UUD 1945 jelas menyatakan jabatan presiden hanya bisa dipilih kembali untuk satu periode.
Jabatan Joko Widodo pada 2019-2024 sendiri merupakan jabatan untuk periode kedua. Merujuk pada UUD 1945 pasal 7, bagi mantan Gubernur DKI Jakarta ini dirinya tidak lagi bisa dipilih menjadi Presiden Indonesia untuk ketiga kalinya.
Berkenaan dengan bergaungnya kembali dukungan masyarakat kepada Joko Widodo untuk jadi presiden ketiga kalinya itu, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robet mengkritik cukup tajam.
Dilansir Kompas.com, baginya, wacana supaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat tiga periode yang terus digaungkan, menilainya sebagai gejala ke arah otoritarianisme menggunakan topeng demokrasi.
“Mobilisasi dukungan tiga periode bukan gejala demokrasi tapi gejala ke arah otoritarianisme. Dia diinisiasi oleh elit dengan menginterupsi proses di mana demokrasi dan tradisi sirkulasi elit sedang berjalan baik,” kata Robet kepada Kompas.com, Kamis (31/3).
Terlepas dari yang kontra dan kritik keras Robertus Robet, tak bisa dipungkiri juga kalau masyarakat masih menginginkan Joko Widodo kembali menjadi presiden untuk ketiga kalinya. Seperti halnya kejadian di Sport Center Arcamanik, Bandung, Minggu (28/8) siang tadi.
Dalam Forum Musyawarah Rakyat (Musra) Indonesia itu Jokowi tak henti-hentinya diteriaki, “Jokowi tiga kali!” oleh masyarakat. Sebagaimana biasanya, Jokowi pun merespon, bahwa ia akan sangat taat terhadap konstitusi.
Jawaban tersebut, justru membuat para pendukungnya semakin kuat mendesaknya maju lagi sebagai capres.”Tiga kali!!!!” seru mereka. Jokowi! Jokowi! Jokowi!” mereka bersorak sambil bertepuk tangan.
Ia kemudian mengundang salah satu orang dari kelompok pendukungnya di sana untuk maju menghampirinya. Seorang perempuan mengaku bernama Jeni asal Kota Bandung kemudian dipilih menghadap.
Jokowi kemudian bertanya, siapa sosok yang akan didukung oleh Jeni untuk maju capres 2024.
“Pak Jokowi, Pak Jokowi lagi,” jawabnya.
“Wong sudah diberi tahu, konstitusinya enggak boleh,” sahut Jokowi.
“Rakyat mengharapkan Bapak,” jawab Jeni lagi.
Jokowi lalu menghadiahinya jaket G20 yang menurutnya tidak dapat dipakai sembarang orang.
Penulis: Wawan Idris




