MHNEWS.id.- Pendidikan tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) penting diberikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Pendidikan HKSR merupakan hak asasi manusia. Setiap orang berhak mendapatkan informasi tentang HKSR, sehingga mampu membuat keputusan persoalan seksual dan reproduksinya tanpa ada paksaan, diskriminasi, dan kekerasan.

Hal itu dikatakan Ketua Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu, Yuyun Khoerun Nisa, di sela kegiatan diskusi publik ‘Pentingnya Pendidikan HKSR untuk Mencegah Kekeraan Berbasis Gender pada Orang Muda di Kabupaten Indramayu”.

Kegiatan yang diselenggarakan yayasan tersebut dilaksanakan di Grand Trisula Hotel Indramayu, Rabu (12/6/2024). Yuyun menjelaskan kegiatan itu bertujuan memberikan dan meningkatkan pemahaman peserta terkait isu HKSR.

Selain itu, supaya terbangunnya komitmen antara pemerintah daerah dan jaringan masyarakat sipil dalam pencegahan kekerasan berbasis gender di Kabupaten Indramayu.

“Kegiatan ini sebagai bentuk komitmen dan kontribusi Yayasan dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender di Kabupaten Indramayu,” kata Yuyun didampingi pendiri yayasan tersebut, Darwinih.

Pihaknya mengakui masyarakat masih menilai sebagai hal yang sensitif dan tabu terhadap pendidikan HKSR. Begitu pula pada generasi muda yang masih menganggap belum cukup matang dan pantas untuk mendiskusikan persoalan seksualitas dan reproduksinya.

“Ketidaktahuan orang muda terkait persoalan HKSR menimbulkan berbagai dampak negatif,” ungkapnya.

Dikatakan, hasil analisis situasi Yayasan Sapa di Indramayu pada tahun 2021 menyebutkan bahwa absennya pembahasan HKSR pada anak muda berdampak pada tingginya kasus kehamilan tidak diinginkan, pernikahan dini, HIV-AIDS dan lain sebagainya.

Diketahui, diskusi tersebut menghadirkan perwakilan dari Dinas PPA DP3AKB Provinsi Jawa Barat Anjar Yusdinar, S.STP, M.Si., Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, Syaefuddin, S.H.,M.H., dan Founder Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu, Darwinih, SPs.I.

Usai diskusi, acara yang diikuti peserta berbagai elemen masyarakat itu dilanjutkan dengan bedah buku “Jihad Melawan Ragu”.

Buku tersebut karya asli perempuan Indramayu, Zahra Amin dalam menyoroti isu perempuan dengan menggunakan pengalaman penulisnya yang melakukan perjalanan ke 6 negara di Eropa.

Penulis  : Rohman
Editor    : Wawan Idris