MHNEWS.id.- Saat masih ada masyarakat yang mempertanyakan bukti keberhasilan Bupati Nina Agustina selama memimpin Kabupaten Indramayu maka dengan mudah dapat dintunjukkan faktanya.
Bukti-bukti keberhasilan itu sangat banyak dan kasat mata. Masyarakat selain dapat melihat dengan sejelas-jelasnya juga sekaligus sesungguhnya saat ini dapat menikmatinya.
“Jadi kalau masih ada yang nyinyir dan nyari-nyari kekurangan Bu Nina, dapat dipastikan yang bersangkutan termasuk dalam kategori buta mata, buta hati, dan tidak bersyukur,” ungkap Mang Amin, salah seorang warga Desa Jambak, Kecamatan Cikedung.

Bupati Indramayu, Nina Agustina berkomitmen memajukan pertanian sehingga petani menjadi lebih sejahtera. Foto: Daniswara/mhnews.id
Yang diungkapkan Mang Amin memang benar adanya. Ketika tidak bersyukur dan bahkan ada terselip kebencian di hati terhadap Bupati Nina Agustina maka sebanyak apa pun keberhasilan tetap tidak akan mengakuinya.
Bagi kelompok masyarakat demikian, yang baik akan tetap buruk, terlebih yang kurang (karena bagaimana pun kinerja Bupati Nina tidak akan mencapai kesempurnaan) maka akan dianggap sebagai kegagalan.
Tentang bukti atas keberhasilan Bupati Nina selama memimpin Indramayu salah satunya adalah di bidang atau sektor pertanian. Faktualnya adanya Kabupaten Indramayu kembali menjadi pilot project di tingkat nasional sekaligus barometer pengembangan pertanian organik.
Kepercayaan dari pemerintah pusat ini tentu tidak datang ujug-ujug dan tanpa sebab. Pemerintah pusat memberikan kepercayaan ini karena Bupati Nina Agustina dinilai memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan pertanian di Indramayu.
Lebih dari itu, Bupati Nina juga telah terbukti memajukan pertanian (padi) di Kota Mangga ini. Faktatualnya adalah selalu meningkatkan produksi padi Indramayu dari tahun ke tahun. Peningkatan produksi padi ini juga mengantarkan Indramayu sebagai Lumbung Pangan Nasional.
Kepala Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Jawa Barat, Rustan Massinai juga mengakui sampai saat ini Kabupaten Indramayu merupakan penghasil padi terbesar di Indonesia tidak terbantahkan.
Namun demikian upaya peningkatan produksi padi dari Kabupaten Indramayu terus ditingkatkan salah satunya dengan mengembangkan padi menggunakan sistem organik yang lebih ramah lingkungan.
“Pak Menteri langsung menjadikan Indramayu sebagai pilot project padi organik. Alhamdulilah kita sudah ada seribu hektare hamparan sawah yang sudah menggunakan organik di Indramayu,” kata Rustan di pendopo Indramayu belum lama ini.
Rustan menambahkan, hamparan sawah organik 1.000 hektar tersebut sudah ada di Kecamatan Widasari dan 55 hektare di Kecamatan Jatibarang. Meskipun sudah tersedia 1.000 hektare, saat ini pihaknya terus mengembangkan lahan pertanian dengan sistem organik di kecamatan lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian, para petani yang lahan sawahnya menggunakan sistem organik ternyata mampu meningkatkan hasil produksinya dari semula 6-7 ton per hektare menjadi 10 ton per hektare.
“Dengan menggunakan organik selain terjadi peningkatan produksi juga ada peningkatan harga jual karena padi organik lebih mahal dan tentu menyehatkan serta ramah lingkungan,” tegas Rustan.
Apresiasi dari pemerintah pusat atas keberhasilan dan sekaligus keberpihakan Bupati Nina di sektor pertanian tersebut patut didukung seluruh lapisan masyarakat, terutama para petani. Karena yang akan menikmatinya bukan Bupati Nina akan tetapi masyarakat itu sendiri.
Program yang sangat baik itu harus terus berlanjut jangan sampai berhenti di tengah jalan karena pergantian pimpinan (ganti bupati). Karenanya, dua periode memimpin Indramayu bagi Bupati Nina menjadi sebuah keniscayaan.
Penulis: Wawan Idris




