MHNEWS.id.- Tol Cipali yang melintasi Kabupaten Indramayu sangat panjang itu sudah beroperasi lama, namun kegetiran dari beroprasinya jalan berbayar itu masih terasa bagi warga Kota Mangga.

Betapa tidak, setelah Tol Cipali beroperasi perekonomian masyarakat seperti warung makan, oleh-oleh, sampai SPBU banyak yang tutup dan bangkrut. Pengangguran pun tumbuh tak terkendali dan kemudian menjadi beban pemerintah daerah.

Beroperasinya Tol Cipali memang sama sekali tidak memberikan berkah bagi Indramayu, malah sebaliknya menjadi sumber bencana. Berbeda dengan Subang, Majalengka, Tol Cipali mengangkat perekonomian mereka.

Selasa (11/7/2023) Presiden Joko Widodo meresmikan Tol Cisumdawu. Adakah Tol Cisumdawu ini memberikan harapan bagi Indramayu?

Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengungkapkan Tol Cisumdawu yang diresmikan Presiden Joko Widodo akan menjadi roda penggerak perekonomian di kawasan Rebana Metropolitan.

Ada pun kawasan Rebana Metropolitan meliputi tujuh wilayah, yakni Kabupaten Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Indramayu, Kuningan, serta Kota Cirebon. Namun Cisumdawu ini akan lebih menguntungkan lagi bagi daerah Kawasan Peruntukan Industri (KPI).

Nining mengaku, KPI terbanyak terletak di wilayah Indramayu. Namun, terdapat banyak tantangan yang harus diatasi di Indramayu dan wilayah serupa, seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), pengentasan kemiskinan, dan penurunan angka pengangguran.

“Kami melihat bahwa saat ini terjadi peningkatan yang signifikan, baik dari segi ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja serta peningkatan kualitas SDM,” ujar Nining.

Kualitas SDM akan semakin maju dengan adanya kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Politeknik Manufaktur (Polman) Cirebon yang menyesuaikan kurikulumnya dengan kebutuhan Rebana.

Apabila rencana tersebut berjalan dengan baik, kawasan Rebana diproyeksikan dapat menyerap  4,49 juta tenaga kerja pada 2030. Pertumbuhan ekonomi di Jabar juga diperkirakan akan mencapai 7,16 persen dan investasi diperkirakan akan meningkat 7,7 persen dari kondisi saat ini.

Selain dari sisi investor yang berinvestasi di Rebana, pemerintah juga terus mendukung pembangunan 81 infrastruktur dasar di kawasan tersebut dengan total nilai proyek sebesar Rp 234,59 triliun.

Prioritas utama difokuskan untuk menyelesaikan 37 proyek senilai Rp 30,9 triliun pada 2024. Sisanya akan diselesaikan hingga tahun 2030, termasuk pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Cirebon Raya, Tol Cipali Exit Patimban Subang, dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wado.

“Dari proyek-proyek tersebut, dua proyek infrastruktur telah selesai, sembilan proyek sedang dalam tahap konstruksi, sembilan lainnya siap untuk dibangun, dan 15 proyek masih dalam tahap persiapan. Jika semua proyek tersebut selesai, investor akan berbondong-bondong datang ke Rebana,” ungkapnya.

Untuk menyamakan visi dan misi, DPMPTSP Jabar telah mengadakan roadshow dengan tujuh kepala daerah di wilayah Rebana. DPMPTSP Jabar juga mengadakan business matching dalam forum industri Jabar dan West Java Investor Summit (WJIS). Acara WJIS akan diadakan pada Agustus 2023.

“Salah satu cara kami untuk menarik investor adalah melalui WJIS. Acara ini akan diselenggarakan pada tanggal 9 Agustus 2023,” tutup Nining.

Penulis: Wawan Idris