MHNEWS.id.- Pelaku kejahatan dengan modus gendam atau hipnotis kepada korban Suwarsiti (64) diduga berjumlah empat orang, yaitu tiga berjenis kelamin laki-laki dan satu perempuan.
Anak korban yang bernama Cintia menjelaskan para pelaku tersebut tampak membagi peran masing-masing. Hal ini terungkap dari CCTV yang merekam kejadian hipnotis tersebut.
“Ibu saya turun dari angkot (mau jalan pulang ke rumah) tiba-tiba disamperin sama Mbak-mbak. Saya lihat di CCTV di depan gerbang, ibu saya sudah akrab dengan orang itu,” kata Cintia, Kamis (19/10/2023).
Cintia mengatakan, semua barang berharga yang disimpan di dalam lemari hilang, termasuk emas dan perhiasan.
“Kayaknya pelaku masuk ke dalam, lemari ibu saya cukup berantakan, semua baju keluar dan uang yang ibu saya simpan beserta emas itu hilang,” jelas Cintia.
Setelah itu, Suwarsiti diajak untuk ikut pelaku pergi ke Bank BNI. Keduanya pergi menggunakan mobil yang sudah ditunggu tiga pelaku lain.
“Saya tanya ibu saya dari rumah ke bank naik apa, katanya naik mobil. Di dalam mobil ada tiga orang,” ucapnya. Ketika sampai di bank, hanya satu pelaku yang menemani Suwarsiti untuk tarik tunai Rp 100 juta.
“Pelaku yang perempuan itu juga ke bank sama ibu. Saya akhirnya ke bank untuk lihat CCTV ternyata ada di teller, duduk berdua,” imbuhnya.
Cintia menuturkan, tidak ada komunikasi yang terjalin dari sang ibu dan pelaku. Namun, ada gerak gerik mencurigakan. “Saya lihat itu, dia berulang kali menepuk lengan ibu saya. Selama di bank, dia diam saja, ibu saya yang ngomong terus (ke teller),” paparnya.
Setelah dari Bank BNI, pelaku meminta lagi uang kepada korban. Namun, ATM di bank tersebut sudah tidak bisa lagi untuk tarik tunai sehingga mereka menarik uang lagi di ATM bersama.
Cintia berujar, komplotan penipu yang menghipnotis ibunya mencoba menguras seluruh isi tabungan usai mengambil kartu ATM, kartu tanda penduduk (KTP), dan buku rekening.
“Dia (pelaku) ngambil di ATM Bersama senilai Rp 1.250.000 itu sebanyak 15 kali penarikan, pas dicek itu penarikan di Jakarta Pusat. Itu dia (tarik tunai di ATM) setelah menurunkan ibu saya. Dia langsung menuju Jakarta Pusat untuk tarik tunai,” ujarnya.
Karena curiga dengan adanya penarikan uang di wilayah Jakarta Pusat, anak Suwarsiti langsung menuju Bank BNI terdekat untuk memblokir kartu ATM ibunya.
“Tersisa di tabungan Rp 12 juta karena langsung di-block sama kakak saya, begitu tahu ibu dihipnotis, dia langsung ke bank minta diblokir,” ucap Cintia.
Cintia menuturkan, pelaku sudah mengetahui pin ATM ibunya. Dia menduga, komplotan pelaku berasal dari Jakarta Pusat.
“Saya duganya sih orang Jakarta Pusat karena dari banyaknya wilayah yang paling dekat dari Bekasi kan Jakarta Timur, kenapa harus (menarik uang tunai) di Jakarta Pusat,” tutur dia.
Cintia mengaku bahwa saat ini ibunya menjadi sering bengong usai kejadian. “Ibu saya jadi banyak bengong, sekarang saya sama kakak-kakak enggak ngebolehin beliau sendirian,” ungkap Cintia.
Cintia mengatakan, uang ratusan juta rupiah milik ibunya itu dikumpulkan sejak berpuluh-puluh tahun. Rencananya, uang itu akan digunakan untuk pergi haji dan umrah, serta keperluan anak-anaknya.
Adapun Cintia telah melaporkan kasus yang menimpa ibunya itu ke Polsek Podok Gede. Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/002/06/2023/SPKT Polsek Pondok Gede Polres Metro Bekasi Kota Polda Metro Jaya, tanggal 17 Oktober 2023 pukul 19.59 WIB.
Namun, sampai sekarang, Cintia mengatakan, belum ada tindakan apa pun dari pihak kepolisian. Polisi bahkan belum mengecek lokasi kejadian.
“Dari kepolisian belum ada feedback sama sekali sejak saya lapor. Untuk datang ke TKP saja pun enggak,” kata dia. Cintia berharap polisi segera turun tangan menyelidiki kasus tersebut agar uang sang ibu dapat kembali.
“Saya harap kepolisian cepat melakukan penyelidikan, tanpa harus viral dulu baru diusut tuntas atau tanpa ada uang untuk mereka langsung begerak. Saya sudah kehilangan, terus harus bayar mereka, dari mana uangnya,” tuturnya.
Penulis: Wawan Idris




